Resensi Berawal huruf A
A

Agar Dicintai Allah, Abdul Hadi Hasan Wahbi (Penulis), Saeful Ardi (Penj), Aunur Rafiq Shaleh (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Muharram 1425 H/Maret 2004 M, xii + 248 halaman.

Jalinan Cinta Hamba dan Allah

Cinta adalah nutrisi hati, pelepas dahaga jiwa, penyejuk mata, kebahagiaan jiwa, cahaya akal, penyegar batin, puncak cita-cita dan harapan paling mulia. Kehidupan tanpa cinta adalah kematian. Cinta adalah cahaya, yang tanpanya seseorang bisa tersesat dalam lautan kegelapan. Cinta adalah obat penawar yang tanpanya seseorang akan diserang oleh berbagai macam penyakit. Cinta adalah kelezatan, yang tanpanya kehidupan seseorang akan dicekam oleh kerisauan dan penderitaan.

Bila napas kehidupan bisa berdenyut karena dilandasi oleh sebuah cinta, maka cinta hamba terhadap Allah merupakan nutrisi yang memberikan suntikan kekuatan tak terperi bagi seorang Mukmin, yang membuatnya bertahan dalam menghadapi gempuran zaman yang tiada henti melibasnya. Cinta inilah yang terus memompakan rasa optimisme yang besar pada sang Mukmin sehingga ia berhak meraih karunia Ilahi yang paling agung, yaitu cinta Allah ( mahabbatullah ).

Namun seorang hamba yang ingin dicintai oleh Allah tentu saja tidak tinggal diam dan menunggu saja anugerah dari langit. Tidak, sebaliknya ia harus proaktif memburu anugerah itu, yakni dengan berusaha untuk mencintai-Nya lebih dulu.

Mencintai Allah ini juga bukan sekadar menjadi klaim belaka yang hanya menjadi pemanis bibir, namun harus ada usaha kongkret yang mencerminkan keinginan agung itu. Seorang hamba yang benar-benar cinta kepada Allah ini bisa dicirikan dalam hal-hal berikut; dia menginginkan pertemuan dengan Allah di sorga, karena hati yang mencintai Sang Kekasih pasti ingin menyaksikan dan berjumpa dengan-Nya.

Ciri lainnya dari seorang hamba yang mencintai Allah adalah merasa nikmat dalam berkhalwat, bermunajat kepada Allah dan membaca al-Qur ' an. Sabar terhadap hal-hal yang tidak disukai, mengutamakan Allah atas segala sesuatu, mendahulukan apa yang dicintai Allah atas apa yang dicintainya, baik lahir maupun batin. Selalu mengingat Allah, cemburu karena Allah, dan senang terhadap segala sesuatu yang menimpa dirinya dalam perjalanan menuju Kekasihnya. Mencintai kalam Allah, tobat yang dibarengi dengan khuaf (cemas) dan raja ' (harap). Menyesal, jika lupa mengingat Allah, lemah lembut kepada hamba Allah dan tegas kepada musuh-Nya.

Itulah ciri-ciri dari seorang hamba yang mencintai Allah. Kalau sudah ada usaha maksimal dari sang hamba untuk mencintai-Nya dengan mempraktikkan hal-hal di atas, maka ia punya harapan besar untuk meraih mahabbatullah (dicintai Allah), yang ditandai dengan adanya perlindungan dari dunia, pemeliharaan yang baik, dikaruniai sifat lemah lembut, diterima penduduk bumi, mendapat cobaan, dan mati dalam keadaan melakukan amal shalih.

Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda: “ Jika Allah mencitai seorang hamba, maka ia akan memaduinya. ” Sahabat bertanya tentang ‘ memadui ' itu, dan Nabi menjawab, “ Diberi taufiq untuk beramal shalih saat ajalnya, sehingga ia disenangi tetangga dan orang sekitarnya ” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).

Buku ini memang sangat bagus sekali dibaca oleh orang yang mendambakan cinta sejati, yang terikat dengan jalinan cinta bersama Rabb-nya, karena buku ini juga mengurai tentang serangkaian amal yang bisa mendatangkan mahabbatullah . Semisal membaca al-Qur ' an sambil mentadabburi dan memahami maknanya, taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan ibadah sunnah, setelah ibadah wajib. Selalu mengingat Allah di setiap saat, baik dengan lisan, hati, amal, atau keadaan. Mengutamakan ( itsar ) Kekasih di atas keinginan pribadi dan berusaha menggapai cinta-Nya.

Selain itu, menyaksikan berbagai macam kebaikan, karunia dan nikmat-Nya, baik zhahir maupun batin. Pengenalan dan penyaksian hati akan nama-nama dan sifat-sifat Allah, remuk redam hati di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya pada saat nuzul ilahi (turunnya Allah) di tengah malam. Nabi bersabda: “ Rabb kita (Allah SWT.) turun ke langit dunia tiap malam, hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian Dia berfirman: siapa yang berdoa kepada-Ku akan Ku-kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Ku-beri, dan siapa yang memohon ampunan akan Ku-ampuni ” (HR. Malik, dan lainnya).

Juga duduk-duduk dan bergaul dengan para pencinta Allah yang sejati, menjauhi segala hal yang bisa menghalangi hati dari Allah, mengikuti Nabi saw. dalam perbuatan, ucapan, dan akhlaknya, dan zuhud terhadap dunia.

Menurut penulis, ada tiga formula yang bisa membantu tumbuhnya sikap zuhud ini. Pertama , kesadaran hamba bahwa dunia hanyalah naungan sementara, sekadar angan yang datang bertamu. Kedua , kesadaran hamba bahwa di balik dunia, ada yang lebih besar, lebih mulia dan lebih penting, yaitu kampung keabadian akhirat. Ketiga , kesadaran hamba bahwa sikap zuhud terhadap dunia tidak akan menghalangi apa yang telah ditakdirkan. Demikian pula ambisinya terhadap dunia tidak akan mampu mendatangkan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya. Bila hal ini telah diyakini sepenuhnya hingga sampai pada tingkat ilmul-yaqin , maka ia akan mudah bersikap zuhud terhadap dunia. (Makmun Nawawi).

Amerika di Ambang Keruntuhan—Suatu Tinjauan Futuristik , Mamduh az-Zubi (Penulis), Jeje Zainudin & Alit Rosyad (Penj.), Ifa Avianty (Peny.), Robbani Press, Cet I, Dzulqa‘dah 1424 H/Januari 2004 M, xiv+327 hlm.

Menyingkap Berbagai Kemerosotan di Amerika

Kita percaya secara total bahwa institusi apa pun yang berlandaskan pada kebatilan dan kezaliman harus ambruk. Contoh paling kentara adalah Fir‘aun, di mana syarat-syarat sebagai pemimpin negeri yang tangguh sudah ia miliki: Mesir adalah negeri yang berada dalam taring-taring kekuasaannya, rakyatnya patuh, didukung dengan balatentara yang besar jumlahnya, dan ditopang pula dengan infrastruktur yang modern pada eranya, di mana dia dan pembantunya (Haman) berhasil membangun kota Ramses.

Lantas apa yang kemudian menimpa Fir‘aun dengan seluruh keangkuhannya itu? Allah merekam dalam ayat-Nya: “Maka Kami hukumlah Fir‘aun dan balatentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim” (al-Qashash [28]: 40) .

Setelah itu, berakhirkah gaya hidup seperti Fir‘aun? Ternyata tidak, dan kita melihat bahwa Fir‘aunisme baru itu menjelma secara utuh dalam diri George W. Bush dengan Amerikanya. Bila sejarah mencatat bahwa kekuasaan Fir‘aun telah karam bersamaan dengan dikaramkan dirinya di laut. Maka hal yang sama juga mesti terjadi pada Amerika. Di balik aksi brutal, zalim, dan irasional yang dipertontonkannya di berbagai belahan dunia (Islam) itu sesungguhnya bertengger rasa ketakutan yang luar biasa akan keruntuhan dirinya.

Maka umat Islam—yang menjadi bidikan utama dari kebejatan Amerika—harus selalu optimis dalam memandang masa depan. Karena seluruh kekuatan yang batil—apa pun jenisnya—yang mencoba melawan kebenaran pasti akan mengalami kehancuran. Hal itulah yang diberitakan Allah dalam banyak ayat-Nya

Bila Allah sudah menegaskan demikian dalam ayat-Nya (misalnya surat Yunus: 13), maka buku Amerika di Ambang Keruntuhan ini membentangkan data-data yang kaya dan akurat perihal Amerika yang tengah berada di ambang keruntuhan. Mamduh az-Zubi, penulis buku ini yang juga seorang wartawan berhasil menyingkap berbagai kemerosotan yang menggerogoti negara yang paling zalim di dunia ini.

Banyak fenomena yang disorot oleh penulis buku ini, yang semua itu membuktikan bahwa Amerika memang harus runtuh. Lihat misalnya kemerosotan di bidang ekonomi dan sosial. Tahukah Anda bahwa hidup miskin dan terlunta-lunta ternyata bukan hanya monopoli negara-negara miskin, tapi di Amerika pun hal itu terjadi. Hilangnya perlindungan sosial, mahalnya biaya hidup, dan kenaikan harga mendorong ribuan warga Amerika jatuh dalam lingkaran kemiskinan dan kelimpungan.

Hidup terlunta-lunta di jalanan tanpa tempat tinggal yang tetap dialami berjuta-juta rakyat Amerika. Mereka terpaksa hidup beralaskan bumi beratapkan langit, sehari dapat makan, berhari-hari tak sesuap nasi pun ia dapatkan, dan mereka tidak mendapatkan perhatian dari siapa pun.

Kita juga mengenal Chicago sebagai kota yang penuh dengan gedung pencakar langit dan bangunan mewah sekitar Empire State Building yang merupakan bangunan tertinggi di dunia dan tingginya mencapai 443 meter. Tapi ternyata di sana ada kampung-kampung yang menyerupai kampung seng atau kaleng yang berserakan. Suatu fenomena yang mirip dengan pemandangan yang ada di banyak negara ketiga yang miskin seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan lainnya.

Belum lagi banyaknya tunawisma, merosotnya di bidang pendidikan dan kebudayaan, dan problema diskriminasi yang tak henti-henti menyita perhatian pemerintah Amerika. Masalah kesehatan juga mengalami hal yang sama, yang ditandai dengan banyaknya penyebaran penyakit fisik, penyakit jiwa, kehampaan rohani dan sosial.

Masih banyak ancaman lain yang mengintai Amerika. Mulai dari kriminalitas yang terus membumbung tinggi, terorisme dalam negeri yang selalu mengancam, mafia yang menggila, peredaran narkoba yang mengganas, hingga meruyaknya bisnis prostitusi. Beberapa kota besar yang dikenal dunia sesungguhnya menjadi sarang kriminal di Amerika, seperti Los Angeles, Jacksonville, Kansas City, atau New York.

Beragam fonomena kusam yang menyelimuti Negeri Rambo ini sesungguhnya mengukuhkan teori-teori tentang keruntuhan sebuah negara yang dielaborasi oleh para analis dan pakar, baik dari Timur maupun Barat. Bukan hanya mengukuhkan teori filosof Yunani Aristoteles atau filosof Arab Ibnu Khaldun, tapi juga menjustifikasi teori baru dari pemikir Amerika sendiri, yaitu Profesor Paul Kennedy.

Paul Kennedy sampai pada suatu kesimpulan tentang teori tangan besi (arogansi). Dalam hal ini ia mengisyaratkan bahwa dinasti-dinasti dapat bertahan karena kemampuannya dalam mengembangkan sektor-sektor ekonomi. Tetapi di sisi lain perluasan wilayah kekuasaan (invasi) memakan biaya yang sangat banyak yang tidak sebanding dengan apa yang telah diperoleh. Maka terjadilah krisis ekonomi dan akhirnya dinasti tersebut runtuh. Pada waktu yang sama, terbentuklah kekuatan baru yang sukses mewujudkan kekuatan ekonomi yang selanjutnya memperluas wilayahnya. Demikianlah bagaimana keperkembangan dan kejatuhan satu demi satu dari suatu pemerintahan.

Fenomena Amerika Serikat yang terus saja mencengkeram dunia dengan tangan besinya dan bertindak bak polisi dunia, insya Allah bakal menjadi bukti dari teori yang dicetuskan oleh pemikirnya sendiri; ia harus runtuh. Itulah sunnatullah yang mesti berlaku bagi semua tatatan yang berlumur kebatilan, kezaliman, dan keangkuhan. (Makmun Nawawi)