Resensi Berawal huruf D
B

20 Kesalahan dalam Mendidik Anak , Muhammad Rasyid Dimas (Penulis), Tate Qomaruddin, Lc (Penj.), Sandra Dewi (Peny.), Robbani Press, Dzulhijjah 1424 H/ Februari 2004 M, XII+158 hlm.

Kesalahan adalah suatu hal yang wajar dalam kehidupan, dalam bidang apa pun, entah kata-kata, tindak tanduk, pekerjaan, etika bermasyarakat, dan bidang lainnya. Termasuk juga dalam mendidik anak. Namun kesalahan itu bisa ditolelir pada hal-hal yang sudah terjadi, sementara yang belum terjadi, seyogianya kita tidak pernah mengulang lagi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.

Karena itu, Muhammad Rasyid Dimas, ahli pendidikan anak dari al-Imarat University ini mengingatkan para orang tua agar menghindari lalu Sehingga Nabi pernah mengatakan bahwa semua orang bisa khilaf, dan sebaik-baik orang yang berslah adalah yang bertobat. mun hal itu berlaku jika sudah terjadi. lama manusia mau berpikir dan merenung tentang berbagai hal, selama itu pulalah hikmah bertebaran di mana-mana dan sungguh mudah dipetik. Itulah yang dilakukan oleh Maulana Wahiduddin Khan melalui bukunya ini. Beragam peristiwa kehidupan yang boleh jadi dianggap remeh dan sepele oleh sebagian orang, bagi tokoh yang ahli di bidang sains dan studi-studi keislaman ini menjadi lautan hikmah yang sayang untuk dilewatkan. Karena berbagai renungan dan pengamatan sosialnya yang dituangkan dalam buku ini, insya Allah akan mampu mencerahkan dan melejitkan kemampuan Anda. Dengan reputasi keilmuannya yang telah teruji, penulis produktif ini menyajikan kupasan yang mengasyikkan sekali perihal kiat-kiat meraih kesuksesan dalam hidup ini.

Dari beragam peristiwa kehidupan yang dijumpai dan diamati Wahidudin Khan, penulis lebih dari 200 buku ini menyumbangkan kearifan yang manis sekali bagi Anda, terutama bagi mereka yang gampang murung dan lesu dalam menyikapi kegagalan dalam hidup. Padahal kegagalan adalah hal biasa dalam kehidupan. Hanya bagaimana Anda menyikapi kegagalan tersebut, sehingga bisa menjadi cemeti dan menjadi tangga menuju kesuksesan. Itulah kunci yang dimiliki oleh banyak tokoh besar yang lahir di dunia ini. Sukses gemilang yang berhasil mereka raih justru buah dari kegagalan demi kegagalan yang menerpa mereka.

Dalam kehidupan manusia, hal yang paling penting adalah kemauan untuk bertindak. Menurut Wahidudin Khan, itulah pelajaran yang bisa diambil dari bangsa Jepang. Selain dijatuhkannya bom di kota Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, Jepang juga sesungguhnya pernah dilanda guncangan yang sangat dahsyat, yaitu gempa bumi di Kanto pada awal September 1923, sehingga menyengsarakan seluruh penduduk di Jepang bagian timur.

Namun bangsa Jepang tidak mengalah pada rasa kehilangan dan frustasi, dan tidak membuang-buang tenaga untuk melakukan protes politik yang sia-sia, karena negara mereka telah dibom yang menyebabkan keruntuhan dan kehancuran. Tetapi, seperti diketahui, mereka mampu menguasai perasaan tertindas dan mulai merekonstruksi kehidupan nasional mereka dengan sebuah keinginan dan cara. Meskipun gempa bumi telah mengakibatkan kematian dan kerusakan, namun mereka mampu menggembleng diri untuk membangun kehidupan mereka yang lebih cerah.

Dan kini Jepang telah menjadi suatu pusat aktivitas teknologi, bahkan melejitkan dirinya dalam bidang industri melampaui Inggris, Eropa dan Amerika. Menariknya lagi, mengingat Jepang tidak memiliki sumber daya alam seperti yang dimiliki oleh negara-negara industri maju lainnya.

Dari kasus Jepang ini, penulis kemudian mengurai benang merah: bahwa kepuasan diri sendiri dan adanya perasaan nyaman dapat menjadi faktor-faktor yang sangat merusak dalam proses kemajuan seorang manusia selama hidupnya. Hal ini bukan berarti kesengsaraan itu sendiri adalah sesuatu yang menguntungkan. Tidak. Ia justru merupakan percikan api yang membakar jiwa seorang manusia dan menggerakkannya untuk melakukan hal yang lebih besar.

Pelajaran hidup tidak hanya tersaji dari siklus peradaban yang menerpa banyak bangsa di dunia—seperti Jepang itu, namun hikmah kehidupan juga bisa dicomot dari lakon kehidupan yang dialami oleh individu manusia. Misalnya dari seorang penjahit, yang dijumpainya telah mahir sekali dalam menjahit. Kualitas hasil jahitannya sungguh sempurna, baik terhadap orang yang mempunyai tubuh normal, maupun terhadap mereka yang bertubuh kurang sempurna atau cacat—seperti berbadan bungkuk. Dengan kemahirannya itu, si penjahit kemudian bisa mengelola suatu toko yang makmur di jantung kota.

Namun prestasi yang diraih tukang jahit itu bukan instan, melainkan hasil dari perjuangan yang lama dan cukup melelahkan. “Saya telah meraih posisi seperti sekarang ini dengan menaiki anak tangga dan bukan dengan ift,” ucap penjahit itu. Dan ujaran itulah yang dicatat dan diingat betul oleh Wahiduddin Khan.

Untuk menggapai kesuksesan dalam hidup ini memang bukan asal jadi dan serta merta jatuh dari langit. Tidak ada tombol-tombol yang tinggal Anda tekan dan kemudian secara otomatis meraih cita-cita Anda. Anda hanya dapat memperoleh kemajuan dengan selangkah demi selangkah. Kemajuan jarang dapat diraih dengan sekali lompatan dan hentakan. Dengan menggunakan sarana sebuah tangga, barulah Anda dapat maju bahkan hingga Anda memiliki lift sendiri. Namun Anda tidak dapat meraih kesuksesan hidup dengan mulai menaiki lift!

Percikan-percikan renungan seperti inilah yang bertabur dalam buku Psikologi Kesuksesan ini. Anda beruntung bisa menyimak buku ini, karena Maulana Wahiduddin Khan, penulis buku ini, sangat cerdas dan tangkas sekali dalam menggugah pembacanya agar seluruh gelegak kehidupan ini dipandang secara positif. Intelektual kelas dunia yang lahir di India ini mengobarkan optimisme yang besar sekali, sehingga tak ada alasan bagi Anda untuk menghadapi hidup ini dengan murung. Karena di balik jalan buntu yang menjegal Anda dalam meniti hidup ini, sebetulnya jalan kesuksesan terbentang luas di hadapan Anda.

________________

•  Dengan reputasi keilmuan yang teruji.
•  Melejitkan optimisme.
•  Mengkaji dengan radikal
•  Banyak masalah sepele, di mata penulis menjadi sesuatu yang berarti dan berlimpah hikmah.
•  Hikmah bertebaran di mana-mana selama manusia mau berpikir dan merenungi tentang segala hal.

(Makmun Nawawi)

25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak , Muhammad Rasyid Dimas (Penulis), Tate Qomaruddin, Lc (Penj.), Robbani Press, Rabi'ul Awwal 1424 H/Mei 2003 M, XII+175 hlm.

Selama manusia mau berpikir dan merenung tentang berbagai hal, selama itu pulalah hikmah bertebaran di mana-mana dan sungguh mudah dipetik. Itulah yang dilakukan oleh Maulana Wahiduddin Khan melalui bukunya ini. Beragam peristiwa kehidupan yang boleh jadi dianggap remeh dan sepele oleh sebagian orang, bagi tokoh yang ahli di bidang sains dan studi-studi keislaman ini menjadi lautan hikmah yang sayang untuk dilewatkan. Karena berbagai renungan dan pengamatan sosialnya yang dituangkan dalam buku ini, insya Allah akan mampu mencerahkan dan melejitkan kemampuan Anda. Dengan reputasi keilmuannya yang telah teruji, penulis produktif ini menyajikan kupasan yang mengasyikkan sekali perihal kiat-kiat meraih kesuksesan dalam hidup ini.

Dari beragam peristiwa kehidupan yang dijumpai dan diamati Wahidudin Khan, penulis lebih dari 200 buku ini menyumbangkan kearifan yang manis sekali bagi Anda, terutama bagi mereka yang gampang murung dan lesu dalam menyikapi kegagalan dalam hidup. Padahal kegagalan adalah hal biasa dalam kehidupan. Hanya bagaimana Anda menyikapi kegagalan tersebut, sehingga bisa menjadi cemeti dan menjadi tangga menuju kesuksesan. Itulah kunci yang dimiliki oleh banyak tokoh besar yang lahir di dunia ini. Sukses gemilang yang berhasil mereka raih justru buah dari kegagalan demi kegagalan yang menerpa mereka.

Dalam kehidupan manusia, hal yang paling penting adalah kemauan untuk bertindak. Menurut Wahidudin Khan, itulah pelajaran yang bisa diambil dari bangsa Jepang. Selain dijatuhkannya bom di kota Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, Jepang juga sesungguhnya pernah dilanda guncangan yang sangat dahsyat, yaitu gempa bumi di Kanto pada awal September 1923, sehingga menyengsarakan seluruh penduduk di Jepang bagian timur.

Namun bangsa Jepang tidak mengalah pada rasa kehilangan dan frustasi, dan tidak membuang-buang tenaga untuk melakukan protes politik yang sia-sia, karena negara mereka telah dibom yang menyebabkan keruntuhan dan kehancuran. Tetapi, seperti diketahui, mereka mampu menguasai perasaan tertindas dan mulai merekonstruksi kehidupan nasional mereka dengan sebuah keinginan dan cara. Meskipun gempa bumi telah mengakibatkan kematian dan kerusakan, namun mereka mampu menggembleng diri untuk membangun kehidupan mereka yang lebih cerah.

Dan kini Jepang telah menjadi suatu pusat aktivitas teknologi, bahkan melejitkan dirinya dalam bidang industri melampaui Inggris, Eropa dan Amerika. Menariknya lagi, mengingat Jepang tidak memiliki sumber daya alam seperti yang dimiliki oleh negara-negara industri maju lainnya.

Dari kasus Jepang ini, penulis kemudian mengurai benang merah: bahwa kepuasan diri sendiri dan adanya perasaan nyaman dapat menjadi faktor-faktor yang sangat merusak dalam proses kemajuan seorang manusia selama hidupnya. Hal ini bukan berarti kesengsaraan itu sendiri adalah sesuatu yang menguntungkan. Tidak. Ia justru merupakan percikan api yang membakar jiwa seorang manusia dan menggerakkannya untuk melakukan hal yang lebih besar.

Pelajaran hidup tidak hanya tersaji dari siklus peradaban yang menerpa banyak bangsa di dunia—seperti Jepang itu, namun hikmah kehidupan juga bisa dicomot dari lakon kehidupan yang dialami oleh individu manusia. Misalnya dari seorang penjahit, yang dijumpainya telah mahir sekali dalam menjahit. Kualitas hasil jahitannya sungguh sempurna, baik terhadap orang yang mempunyai tubuh normal, maupun terhadap mereka yang bertubuh kurang sempurna atau cacat—seperti berbadan bungkuk. Dengan kemahirannya itu, si penjahit kemudian bisa mengelola suatu toko yang makmur di jantung kota.

Namun prestasi yang diraih tukang jahit itu bukan instan, melainkan hasil dari perjuangan yang lama dan cukup melelahkan. “Saya telah meraih posisi seperti sekarang ini dengan menaiki anak tangga dan bukan dengan ift,” ucap penjahit itu. Dan ujaran itulah yang dicatat dan diingat betul oleh Wahiduddin Khan.

Untuk menggapai kesuksesan dalam hidup ini memang bukan asal jadi dan serta merta jatuh dari langit. Tidak ada tombol-tombol yang tinggal Anda tekan dan kemudian secara otomatis meraih cita-cita Anda. Anda hanya dapat memperoleh kemajuan dengan selangkah demi selangkah. Kemajuan jarang dapat diraih dengan sekali lompatan dan hentakan. Dengan menggunakan sarana sebuah tangga, barulah Anda dapat maju bahkan hingga Anda memiliki lift sendiri. Namun Anda tidak dapat meraih kesuksesan hidup dengan mulai menaiki lift!

Percikan-percikan renungan seperti inilah yang bertabur dalam buku Psikologi Kesuksesan ini. Anda beruntung bisa menyimak buku ini, karena Maulana Wahiduddin Khan, penulis buku ini, sangat cerdas dan tangkas sekali dalam menggugah pembacanya agar seluruh gelegak kehidupan ini dipandang secara positif. Intelektual kelas dunia yang lahir di India ini mengobarkan optimisme yang besar sekali, sehingga tak ada alasan bagi Anda untuk menghadapi hidup ini dengan murung. Karena di balik jalan buntu yang menjegal Anda dalam meniti hidup ini, sebetulnya jalan kesuksesan terbentang luas di hadapan Anda. (Makmun Nawawi)

________________

•  Dengan reputasi keilmuan yang teruji.
•  Melejitkan optimisme.
•  Mengkaji dengan radikal
•  Banyak masalah sepele, di mata penulis menjadi sesuatu yang berarti dan berlimpah hikmah.
•  Hikmah bertebaran di mana-mana selama manusia mau berpikir dan merenungi tentang segala hal.

(Makmun Nawawi)