Resensi Berawal huruf F
F

Fiqih Dakwah Muslimah—Buku Pintar Aktivis Muslimah, DR. Ali Abdul Halim Mahmud (Penulis), Ulis Tofa & Hidayatullah (Penj), Aunur Rafiq Shalih Tamhid (Peny), Robbani Press (Telp. 87780250), Rabi'ul Awwal 1424 H/Mei 2003 M, Rp. 52.500, xxvi + 624 halaman.

Panduan bagi Juru Dakwah Wanita

Seperti yang tersimpul dari judulnya, buku ini memang mengulas sepenuhnya tentang fiqih dakwah. Buku tentang dakwah boleh jadi banyak berlahiran dalam khazanah pustaka kita. Namun karya Ali Abdul Halim Mahmud ini banyak sekali kelebihannya. Bukan hanya karena kajiannya yang lebih spesifik, yaitu tentang fiqih dakwah wanita, namun kitab yang cukup tebal ini juga ditulis oleh orang yang memang kaya sekali pengalamannya dalam dunia dakwah dan harakah Islam. Kurang lebih tujuh puluh tahun dari perjalanan hidupnya dihabiskan dalam gelegak perjuangan itu. Maka kita percaya sekali bila ia mengatakan dalam salah satu bagian bukunya ini bahwa sepengetahuannya tidak ada buku lain yang membahas tentang fiqih dakwah wanita seluas buku ini. Buku ini dibagi menjadi empat bagian utama. Pada bagian pertama yang bertajuk “Ketika Wanita Jauh dari Islam, Dulu dan Kini”, penulis mengulas tentang kedudukan wanita dalam peradaban non-islami, baik dalam peradaban kuno semisal peradaban Mesir Kuno, Babylonia, Yunani dan lain-lain, maupun dalam peradaban modern. Melalui bagian ini, penulis berhasil memperlihatkan betapa kedudukan wanita sangat nista dan naif sekali dalam peradaban-peradaban itu. Kemudian putra mantan Rektor Universitas al-Azhar (Abdul Halim Mahmud) ini memperbandingkannya dengan kedudukan wanita dalam Islam. Hasilnya, sebuah komparasi yang kontras sekali; bila di luar Islam wanita didudukkan sebagai makhluk yang paling nista, dalam Islam ia justru memperoleh posisi yang terhormat. Sementara pada bagian kedua, dengan judul “Wanita dalam Islam, Hak dan Kewajibannya”, penulis sangat gemilang sekali dalam menjelaskan konsep Islam tentang wanita, baik sebagai anak maupun sebagai ibu atau istri. Dari penjelasannya yang luas, kita memperoleh gambaran yang utuh tentang hak dan kewajiban wanita dalam Islam. Melalui bagian ini, kita memperoleh jawaban yang tuntas tentang hak dan kewajiban wanita terhadap orang tua (atau anak), terhadap kaum kerabat, terhadap suami, atau terhadap masyarakat. Namun studi yang sangat radikal dan mendalam dari buku ini terdapat pada bagian ketiga yang sekaligus menjadi judul buku ini: “Fiqih Dakwah Muslimah”. Melalui bagian inilah, penulis mengurai seluas-luasnya tentang fiqih dakwah Muslimah. Mulai dari definisi dakwah, tujuannya, sarananya, tentang bekal yang harus dimiliki para da‘iyah, hingga kupasan tentang beragam amal yang bisa dilakukan oleh para aktivis Muslimah. Yang tidak kurang pentingnya dalam pengayaan wawasan dakwah adalah ulasan tentang kegiatan aktivis Muslimah dalam da‘wah Ilallah . Bahkan bila para aktivis Muslimah jeli dalam menyimak buku ini, mereka sesungguhnya sangat dimanja sekali dengan buku ini. Bagaimana penulis begitu rinci dan mendetail sekali dalam mengupas beragam kegiatan yang bisa dilakukan oleh para aktivis dakwah Muslimah, baik di rumah, bersama kaum kerabat, kawan sejawat, atau para tetangga. Belum lagi di masjid terdekat, dan kontribusi macam apa yang bisa diberikan terhadap masyarakat, serta merinci pula kegiatan yang bisa dilakukan oleh da‘iyah dalam merekrut kaum wanita lainnya untuk “tafaqquh fiddin” (mempelajari agama). Bahkan bagi para aktivis Muslimah yang menghidupkan Islam di berbagai perusahaan pun, insya Allah akan memperoleh pencerahan yang sama dengan membaca buku ini. Karena buku ini bukan hanya menjadi panduan praktis bagi para juru dakwah wanita, tapi juga memberikan rangsuman intelektual dan spiritual yang sangat kaya bagi mereka. Demikian pula dengan para mahasiswi yang aktif memperjuangkan Islam di berbagai kampus, buku ini menawarkan segudang alternatif yang sangat variatif. Dari paparan yang diketengahkan penulis, kita menangkap dinamisme yang kuat sekali dari dakwah Islam. Ali Abdul Halim Mahmud menyodorkan alternatif, formula, dan perspektif dakwah yang segar sekali bagi para da‘iyah atau aktivis Muslimah kontemporer. Baik pelajar, mahasiswi, ibu rumah tangga, guru, penulis, buruh, politisi, dokter, wartawan, atau apa pun status yang disandang oleh para aktivis Muslimah, insya Allah akan mendapatkan bekal dan taujih yang berharga sekali dalam menunjang keberhasilan dakwahnya. Di samping itu, penulis juga merasa perlu untuk mengulas tema- tema tertentu yang khas wanita, seperti problema pernikahan, cerai, poligami, atau problema hijab. Melalui bahasan yang dirangkum dalam bagian keempat buku ini, selain memaparkan solusi Islam terhadap problema tersebut, bagian ini juga dieksplorasi untuk menangkis tuduhan miring yang diarahkan terhadap Islam menyangkut wanita. Hasilnya, betapa Islam memang agama yang sangat komprehensif dan selalu up to date . (Makmun Nawawi). _______________
Sedang sebelum “Kalimat Penutup”, Ali Abdul Halim Mahmud membedah tentang beragam problem yang menimpa para aktivis Muslimah kontemporer. Selain memaparkan solusi Islam terhadap problema tersebut, bagian akhir buku ini juga dieksplorasi untuk menangkis tuduhan miring yang diarahkan terhadap Islam menyangkut wanita. bahwa Sebuah karya yang lahir dari perjalanan panjang penulisnya yang sudah malang-melintang dalam, di mana. Maka buku ini tidak hanya sarat dengan gagasan yang brilian dan cukup teruji untuk diaplikasikan dalam tataran praksis, tapi juga menjadi semacam memoar dakwah bagi penulisnya. Kalau kemudian ulama al-Azhar ini membedah tentang fiqih dakwah wanita, maka karya yang dihasilkannya ini merupakan sumbangan terbesar bagi saudaranya di kalangan aktivis wanita Muslimah. Buku ini menjadi saksi dari perjalanan dakwah penulisnya selama lebih dari enampuluh tahun (507). Sebagaimana yang diakui penulis: tak ada yang membahasnya selain buku ini. Formula untuk menyatukan umat (247).

Fiqih Mencium, Hafizh Syu'aisya' (penulis), Muhdil Anam (Penj.), Abu Mukhlash (Peny.), Robbani Press (Telp. 8778-0250), Cetakan Pertama, Shafar 1425 H/April 2004 M, ix + 79 hlm.

Hal Ihwal Mencium

Mencium bagi sebagian orang mungkin dianggap tabu dan sangat pribadi sekali. Namun Islam terbukti memberikan tuntutan yang jelas dan lengkap sekali perihal mencium ini. Rasulullah, melalui sunnahnya, telah memberikan contoh dan teladan yang lengkap sekali seputar perbuatan mencium ini. Sehingga laku kehidupan manusia yang sering dianggap miring dan ditangkap negatif ini tetap mempunyai ibadah.

Sebagai manusia yang normal, tentu kita pernah mencium suami/istri, anak, atau bagian tubuh manusia, entah itu kening, mulut, tangan, kaki, kepala, pipi, atau bagian tubuh lainnya. Bahkan mungkin ada di antara kita yang pernah mencium mayat. Kalaupun kita belum pernah melakukannya, setidaknya kita pernah melihat orang lain melakukannya.

Kita pun mungkin digayuti oleh pertanyaan ini: apakah seluruh tindakan manusia itu dibenarkan syari'at? Masalah inilah yang antara lain coba dijawab oleh buku ini. Mulanya, penulis sebenarnya hanya ingin menjawab persoalan yang muncul di kalangan anak muda saja, yaitu apakah mencium tangan selain tangan ayah dan ibu itu boleh atau tidak? Kemudian gagasan lain muncul, sehingga temanya pun makin melebar dan meluas. Maka jadilah buku ini.

Ketekunan Hafizh Syu'aisya', penulis buku ini, dalam menghimpun beragam riwayat dan atsar yang berkenaan dengan tema mencium ini patut diacungi jempol. Bahan bacaan yang dijadikan rujukan buku ini memang tidak diletakkan dalam satu bagian khusus atau daftar pustaka, namun dari catatan kaki yang ada di bawahnya menyiratkan betapa lengkap buku yang dijadikan rujukan oleh penulisnya. Karena itu, sekalipun kecil, buku ini cukup repsentatif untuk berbicara tentang fiqih mencium dalam Islam.

Tentang mencium tangan misalnya, penulis membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-Isti'dzan, bab Ma Ja'a fi Qublatil-Yadd war-Rijli. Dalam riwayat itu termaktub: "Dituturkan dari Shafwan bin Asal; ia berujar: seorang Yahudi berucap kepada temannya, 'Pergilah bersama kami kepada Nabi ini!' Temannya menjawab, 'Jangan menyebutnya 'Nabi', karena jika ia mendengar ucapanmu itu niscaya ia akan mempunyai empat mata (merasa besar kepala-Penj.). Kemudian mereka berdua mendatangi Rasulullah saw., lalu bertanya tentang sembilan ayat yang nyata. Maka Nabi berkata kepada mereka: janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, jangan mencuri, jangan berzina, jangan membunuh seseorang yang diharamkan Allah untuk membunuhnya kecuali karena haq, janganlah membawa seseorang yang tak bersalah kepada penguasa untuk dibunuhnya, janganlah berbuat sihir, jangan makan riba, jangan menuduh zina terhadap perempuan baik, jangan desersi (berlari meninggalkan peperangan pada waktu terjadinya perang), dan kewajiban khusus untuk kalian-orang-orang Yahudi, hendaklah jangan berlebihan di hari Sabtu."

Lebih lanjut Shafwan bin Asal berujar: kemudian kedua orang Yahudi itu mencium tangan dan kaki Nabi saw., seraya berucap, 'Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar seorang Nabi.' Lalu Nabi bertanya, 'Lantas apa yang menghalangi kalian untuk mengikutiku?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya Nabi Dawud alaihis salam berdoa kepada Tuhannya agar terus mengutus seorang Nabi dari keturunannya. Kami takut, jika kami mengikuti ajaranmu, tentu orang Yahudi akan membunuh kami'."

Demikian salah satu riwayat yang ditampilkan oleh penulis perihal mencium tangan dan kaki. Tentu saja bukan hanya satu riwayat itu saja yang menjadi rujukan, melainkan banyak riwayat yang diangkat Hafizh Syu'aisya' dalam bukunya ini.

Dari beragam riwayat itu, penulis juga menjelaskan bahwa mencium anggota tubuh Nabi saw. atau anggota tubuh sahabat yang mulia atau ulama yang agung hanya diperkenankan dalam peristiwa yang mulia, tidak selamanya, dan tidak menjadi tradisi ketika masuk menemui mereka atau keluar dari hadapan mereka. Hal itu hanya berlaku dalam momen-momen yang menuntut adanya adab dan penghormatan, baik dari orang dewasa kepada orang dewasa, atau dari anak-anak kepada orang dewasa. Ini terjadi karena suatu hal yang mengharuskan adanya ucapan terima kasih, atau ketika mendapatkan nikmat pemahaman ilmu dan pemikiran, atau munculnya perangai yang terpuji dari orang yang shaleh yang memberikan peringatan.

Pada bagian lain, penulis juga menganjurkan kita agar memperlakukan anak sama rata dan sama adil dalam mencium mereka. Sebuah riwayat menyebutkan: "Dituturkan dari Mu'ammar, dari az-Zuhri, dari Anas; ia berkata, 'Nabi saw. bersama seseorang, lalu datang anak laki-lakinya, maka ia pun mencium dan mendudukannya di atas pahanya. Kemudian datang anak perempuannya, seraya (hanya) mendudukkannya di sampingnya. Maka Nabi pun bersabda, 'Mengapa kamu tidak berbuat adil antara mereka berdua?'" (HR. Thahawi dalam Ma'anil-Aatsar).

Dari beragam sajian tentang mencium yang diangkat buku kecil ini, insya Allah bisa menjadi pegangan yang berarti dalam menata tindak tanduk kita, sekecil dan sesederhana apa pun, sehingga tetap bernilai di mata Allah. (Makmun Nawawi).