Resensi Berawal huruf H
H

Hakikat Penghambaan kepada Allah, Ibnu Taimiyah (Penulis), Abdullah & M. Misbah (Penj.), Aunur Rafiq Shalih Tamhid & Harlis Kurniawan (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Cet I, Jumadil Ula 1425 H/Juli 2004 M, liv+174 hlm.

Penghambaan yang Melahirkan Kebahagiaan

Kata “penghambaan' menjadi suatu kata yang menjijikkan jika disematkan pada hubungan antara sesama manusia, karena berbagai tindakan keji dan biadab yang terkandung di dalamnya. Namun tidak demikian halnya jika “penghambaan” ( ‘ubudiyah ) ini ditujukan kepada Allah. Ia justru menjadi sesuatu yang disenangi, karena hal itu akan menjadi pembebas bagi manusia dari segala bentuk tirani yang membunuh hakikat kemanusiaan dirinya. Suatu penghambaan yang melahirkan kebahagiaan dan keutamaan, serta mengembalikan kehormatan manusia. Dengan demikian, penghambaan manusia terhadap Allah sesungguhnya identik dengan pembebasan dirinya.

Penghambaan yang membuahkan pembebasan ini tidak serta merta lahir begitu saja, melainkan dari penghayatan dan perjuangan yang total dalam beribadah kepada Allah. Dan itulah misi utama kehadiran manusia di dunia ini, sebagaimana yang Allah firmankan dalam ayat-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56).

Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.' Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya” (QS. an-Nahl [16]: 36).

Itulah sebabnya mengapa orang yang menjadi hamba bagi selain Allah, digambarkan oleh Nabi sebagai manusia yang celaka. Beliau bersabda: “Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba sutra, celakalah hamba perut, celaka dan binasalah” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Bila manusia dituntut untuk menghamba dan beribadah kepada Allah, mereka tidak hanya mempunyai potensi untuk itu, tapi juga terlalu angkuh jika manusia enggan melakukannya. Karena nikmat yang telah diterima dari-Nya sungguh tak terbilang—meski kebesaran Allah sama sekali tak bergeser dengan kemaksiatan manusia. Lagi pula, manfaat ibadah itu sendiri sesungguhnya terpulang pada sang hamba.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: “Wahai Bani Adam, curahkanlah dirimu sepenuhnya untuk beribadah kepada-Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan menutupi kefakiranmu. Jika tidak kaulakukan, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan beragam kesibukan dan Aku tidak menutupi kefakiranmu” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Kita tahu bahwa implementasi dari makna ibadah begitu luas, seluas kehidupan itu sendiri. Ibadah itu sendiri bermakna: suatu nama yang mencakup segala perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Dengan begitu, maka dimensi ibadah sangat luas dan luas sekali.

Namun telah lama umat diterpa oleh beragam kebodohan dan penyimpangan, baik dalam ibadah maupun cara berpikir mereka. Maka melalu buku ini, Ibnu Taimiyah—tokoh pembaharu dan pemikir Islam terkemuka abad ke-8 H/ke-14 M—menjawab beragam fenomena kebodohan dan penyimpangan tersebut dengan hujjah dan logika yang kuat.

Prof. Abdurrahman Albani, yang menorehkan pengantar dalam buku ini, berkomentar: buku ini termasuk risalah yang paling berharga dan bermanfaat yang pernah saya baca. Saya membacanya beberapa tahun silam dan menemukan informasi yang melimpah, analisa yang cermat, dan nasihat yang bermanfaat.

Di dalamnya saya perhatikan Ibnu Taimiyah menawarkan kepada kita teori sempurna mengenai arti ‘ubudiyah di dalam Islam. Sebuah teori yang penuh dengan pemikiran-pemikiran yang saling bertaut yang bersumber dari nash-nash syar‘i, penunjukan bahasa, dan didukung dengan berbagai aksioma ilmiah, psikologis dan sosiologis. Inilah salah satu keistimewaan di dalam teori Ibnu Taimiyah.

Ada dimensi sosial dan politik yang coba diangkat pula oleh Ibnu Taimiyah, ketika ia berbicara mengenai fenomena ‘ubudiyah kepada selain Allah, yaitu ‘ubudiyah yang secara lahiriyah pelakunya sangat jauh untuk dikatakan sebagai penghamba.

Ia berujar: “...Demikian pula pengejar jabatan dan martabat tinggi di muka bumi. Hatinya menjadi budak bagi orang yang membantunya mencapai jabatan, meskipun secara lahiriyah ia pemimpin mereka dan ditaati mereka. Pada hakikatnya ia mengharapkan mereka dan takut kepada mereka, sehingga ia mengucuri mereka dengan kekayaan dan loyalitas, mentolerir lpelanggaran mereka agar mereka menaati dan membantunya. Secara lahiriyah, ia seorang pemimpin yang ditaati, namun pada hakikatnya ia seorang budak yang patuh. Keduanya adalah hamba bagi yang lain, dan keduanya meninggalkan hakikat ibadah (penghambaan) kepada Allah.”

Tentang ketokohan Ibnu Taimiyah, penulis buku ini, tentu tak perlu dikomentari lagi. Biarlah karyanya ini saja yang berbicara ke hadapan Anda. (Makmun Nawawi)