Resensi Berawal huruf I
I

Indahnya Bidadari Surga , Jamal Abdurrahman ( Penulis ), Nabhani Idris ( Penj ), Abu Sumayyah Syahiidah (Peny) , Robbani Press (Telp. 87780250), Cet. Pertama, Jumadits-Tsani 1425 H/Agustus 2004 M, XI + 127 hlm.

Citra Bidadari

Ibnu Abi Dunia rahimahullah menceritakan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah . Tuturnya: “Seorang pemuda di Iraq berkhalwat untuk ibadah. Lalu ia pergi ke Mekkah dengan ditemani seorang rekannya. Setiap kali singgah di suatu tempat, ia melakukan shalat. Manakala orang-orang makan, ia malah puasa. Rekannya sabar menyertainya. Ketika akan berpisah, rekannya bertanya kepadanya: ‘Tolong beritahukan kepada aku mengapa engkau berbuat seperti yang kusaksikan?'

Pemuda itu memberi penjelasan: ‘Aku pernah mimpi melihat sebuah istana di surga yang batu batanya terbuat dari perak dan emas. Setelah seluruh sisi bangunan kulihat semuanya, lantas kudapati sebuah beranda yang terbuat dari mutiara zabarjad, dan yang satu lagi dari mutiara yaqut. Di antara keduanya terdapat seorang bidadari dengan rambut tergerai indah dan mengenakan pakaian yang lembut mengiringi kelenturan tubuhnya. Dan ia berujar: ‘Bersungguh-sungguh dalam menaati Allah jika menginginkan aku.' Wallahi , aku telah bersungguh-sungguh menginginkanmu. Sang pemuda berkata kepada rekannya: ‘Aku lakukan ini untuk meraih dia'.”

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkomentar:

“Ini dalam rangka mendapatkan satu orang bidadari, lantas bagaimana dengan orang yang ingin memperoleh lebih dari itu?”

Melalui serangkaian ayat al-Qur'an dan hadits Nabi, kita mengetahui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menyediakan bagi para hamba-Nya yang shaleh hurul‘in (bidadari) di surga yang keindahan dan kecantikan mereka dilukiskan dengan jelas, dan sifat-sifatnya yang terlembut digambarkan oleh syari‘ah yang suci. Tujuannya agar seorang Muslim menahan diri dari beragam kesenangan yang diharamkan dan terdorong untuk mendapatkan para bidadari.

Bidadari! Dialah makhluk Allah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan wanita idaman. Inilah salah satu nikmat yang belum dicicipi manusia. Bila kenikmatan seksual merupakan nikmat indrawi terbesar bagi manusia, maka bidadari menjadi wahana bagi seorang Mukmin untuk menikmati anugerah terbesar itu. Sebagai anugerah terbesar, tentu saja tidak sembarang orang bisa mereguknya. Tapi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu mengekang diri dari beragam kesenangan yang diharamkan, demi mematuhi Allah. Pelajaran inilah antara lain yang bisa dipetik dari narasi di atas.

Dalam rangkaian haditsnya, Rasulullah pun sangat rinci sekali dalam melukiskan sosok bidadari; ia adalah istri yang suci, wajahnya putih dan cantik jelita, sangat indah rupawan, pandangannya pendek (tidak liar), hidungnya indah dan lembut, pipinya mulus, bersih dan ranum kemerah-merahan. Nabi berujar: “Ia (penghuni surga) melihat wajahnya sendiri melalui pipi bidadari yang lebih bening daripada cermin” (HR. Baihaqi).

Agar seorang Mukmin terdorong untuk meraih kenikmatan abadi di surga, Rasulullah juga melukiskan bahwa mulut bidadari teramat manis dan seyumnya memancarkan cahaya, suaranya paling merdu, selalu berada dalam keamanan dan ketenangan, selalu dalam kesenangan, selalu rela dan cinta, senantiasa menetap dan mendampingi, dipingit (tidak kemana-mana), selalu memuji lagi menyambut, rambutnya hitam legam dengan aromanya yang harum semerbak.

Di samping itu, leher bidadari halus dan panjang, dadanya bidang dan bening, buah dadanya padat, pinggang dan perutnya indah, hatinya menjadi cermin bagi suaminya, pergelangan tangan, tapak tangan dan cincinnya sangat lembut. Bidadari adalah wanita yang disucikan, dan pada saat yang sama ia juga selalu berada dalam keperawanan, tidak membosankan suami dan selalu memuaskan. Subhanallah !

Betis bidadari begitu bening, tumitnya putih mulus, kedudukannya tinggi, berlimpah kecintaan, sebaya dan sama, benar-benar suci, dan sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, luput (terbebas) dari akhlak tercela, dan diciptakan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana secara langsung. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (para bidadari) dengan langsung” (al-Waqi‘ah [56]: 35).

Artinya, Allah ‘Azza wa Jalla telah menyiapkannya dengan sempurna, baik bentuk/rupa, akhlak, perilaku maupun pemeliharaannya.

Demikian citra bidadari yang dilukiskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mungkin sabda beliau tentang bidadari terkesan vulgar. Tapi ajaibnya, seluruh gambaran Nabi yang dibentangkan buku ini sama sekali tidak membangkitkan nafsu seksual yang liar, bahkan justru memancangkan hasrat yang menggebu untuk mengejar apa yang disediakan Allah itu dengan serangkaian kepatuhan. Anda tidak percaya? Silakan simak buku ini hingga tuntas. (Makmun Nawawi).

Indahnya Ramadhan di Rumah Kita, Dr. Akram Ridha (penulis), Heri Efendi (Penj.), Tri Joko Setiadi (Peny.), Robbani Press (Telp. 8778-0250), Cetakan Pertama, Sya‘ban 1425 H/ September 2004 M, xxvii + 255 hlm.

Ramadhan Tidak Identik dengan Kelesuan Kita bersyukur dapat bersua kembali dengan Ramadhan—suatu nikmat yang besar, karena banyak di antara saudara kita yang tak lagi bertemu dengan bulan agung ini. Mereka semua telah pergi menemui Allah. Kita senang masih diberi umur panjang, sehingga mempunyai peluang untuk mereguk berbagai kenikmatan yang bertabur dalam bulan yang penuh berkah ini. Adalah Nabi, setiap kali melihat hilal Ramadhan, beliau melafalkan doa: “Ya Allah, terbitkan hilal kepada kami dengan aman dan iman, keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah” (HR. Imam Ibnu Hibban). Dalam bulan inilah berbagai amalan kebajikan dilipatgandakan oleh Allah. Mereka yang melakukan amal sunnah pada bulan Ramadhan, dinilai sebagai amalan fardhu pada bulan lainnya. Sementara mereka yang melakukan amalan fardhu pada bulan ini, dibalas dengan tujuhpuluh kali lipat dibanding bulan-bulan lainnya. Pada bulan Ramadhan pula rezeki orang Mukmin ditambah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ramadhan adalah bulan rahmat, maghfirah, dan itqun minan-nar (pembebasan dari api neraka). Inilah bulan yang penuh dengan limpahan anugerah Ilahi di mana kita terasa syahdu dalam mendaras al-Qur'an, tarawih, qiyamullail, tafakkur, i‘tikaf, dan berbagai amal ibadah lainnya. Hasan al-Bashri paham betul tentang hal ini, seraya berkata: “Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai arena pertandingan makhluk-makhluk-Nya. Mereka berlomba dalam ketaatan demi meraih ridha-Nya. Sebagian berhasil dan keluar sebagai pemenang, namun sebagian lagi meninggalkan ketaatan itu dan mereka pun merugi. Sungguh mengherankan orang yang tertawa dengan kelalaian pada hari ketika kemenangan hanya bagi mereka yang berbuat baik dan kerugian bagi orang-orang durhaka.”

Segenap limpahan karunia Allah itu sungguh sayang jika terlewatkan, dan buku ini pun ingin menghadirkannya lebih dekat lagi di rumah Anda. Melalui kupasannya yang variatif, buku Indahnya Ramadhan di Rumah Kita ini menjadi panduan yang memikat bagi Anda dan keluarga Anda dalam menghidupkan Ramadhan. Dengan ditopang ilustrasi yang kaya, paparan tentang fiqih shiyam, sejarah, petikan kisah, dan fatwa-fatwa mutakhir seputar puasa pun menjadi enak untuk disimak.

Proses kreatif penulis yang diekspresikan melalui kolom-kolom latihan dalam buku ini juga cukup mampu merangsang kecerdasan anak-anak Anda. Beragam latihan dan pertanyaan itu tampil di setiap akhir bahasan, dan kolom-kolom jawabannya diletakkan di bagian akhir buku ini. Suatu model sajian yang lain dari banyak buku yang mengulas seputar Ramadhan. Dengan begitu, Ramadhan tidak hanya menempa kesalihan dan ketakwaan, tapi juga bisa meningkatkan intelektualitas keluarga Anda.

Bagi ibu-ibu Muslimah yang ingin memunculkan suasana lain di rumahnya manakala Ramadhan tiba, insya Allah buku ini sangat membantu sekali. Karena dalam buku ini juga disajikan ulasan tentang bagaimana sikap mereka terhadap anak-anak dan suami mereka.

Menurut penulis, bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk menambah wawasan keislaman anak-anak. Karena itu, Anda harus mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang dapat diterima si anak. Menyuruh anak-anak berpuasa pun merupakan tindakan luhur.

Para ulama berpendapat bahwa hukum berpuasa bagi anak-anak kecil memang tidak wajib, tetapi agar mereka terlatih untuk berpuasa sebelum dewasa. Mereka (para ulama) menyamakannya dengan hukum melaksanakan shalat bagi anak kecil.

Dituturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash ra.; ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (kalau mereka tidak mau melaksanakan shalat) ketika mereka sudah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR. Abu Dawud).

Muatan bahasan buku ini yang kaya tentu saja tidak hanya dipersembahkan untuk kaum wanita, tapi juga untuk segenap kaum Muslimin yang ingin menjadikan Ramadhan penuh kesan. Dan satu hal yang perlu dicatat dari buku ini adalah bahwa Ramadhan tidak identik dengan bulan kelesuan dan kemalasan, di mana waktu-waktu sang Muslim hanya dihabiskan untuk tidur-tiduran saja sambil menunggu datangnya waktu berbuka.

Sekali-kali tidak, karena ternyata banyak peristiwa spektakuler dan penuh heroisme dalam sejarah Islam justru terjadi dalam bulan Ramadhan. Misalnya Perang Badar, di mana Mu‘adz dan Mu‘awwidz ra. berhasil menghabisi Abu Jahal, si musuh Allah SWT. Itu. Awal pembentukan sariyyah (satuan militer) yang dipimpin Hamzah bin Abu Thalib juga terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya pada tahun 1 Hijriyah. Dan masih banyak peristiwa besar lainnya yang terjadi pada bulan agung ini. (Makmun Nawawi).