Resensi Berawal huruf K
K

23 H/Februari 2003 M, Rp. 19.000, xvii + 230 halaman.

Proses Menuju ke Keabadian

Setiap orang mempunyai waktu hidup yang terbatas, dan setiap orang itu diuji oleh Allah sepanjang masa tersebut. Demikian tugas luhur manusia dalam kehidupan dunia ini. Namun tahukah kita bahwa jalan hidup, perilaku dan sifat-sifat yang ditampakkan seorang individu di dunia ini sesungguhnya membentuk kehidupan abadinya kelak, yang karenanya kita sudah masuk dalam proses menuju ke keabadian itu. Dengan kata lain, keabadian itu sesungguhnya telah dimulai. Karena keabadian, yang nampak sebagai sebuah konsep yang tak dapat dicapai oleh kita, hanyalah sebuah waktu yang sangat singkatnya dalam pandangan Allah.

Dari sudut pandang inilah kita bisa lebih mudah memahami arti tentang nilai kehidupan manusia di muka bumi ini. Sementara waktu uji yang kita miliki begitu singkat; bila gagal, maka penyesalan yang dalam pun akan tiada gunanya. Karena itu, kita dituntut untuk bisa memaknai hidup ini dengan penuh arti dan menjalaninya dengan cara yang paling bijaksana. Allah berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal salih) untuk hidupku ini'” (QS. al-Fajr [89]: 23-24).

Dalam menjalani proses menuju ke keabadian itu, manusia diuji dengan berbagai macam persepsi yang kelak sesungguhnya tidak mempunyai realitas. Persepsi-persepsi ini secara intens dihadirkan dengan menarik. Dalam hal ini, al-Qur'an menyebutkan:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-bintang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (sorga)” (QS. Ali Imran [3]: 14).

Banyak orang melemparkan agamanya jauh-jauh karena mereka dikalahkan oleh daya tarik harta benda milik mereka, seperti timbunan emas dan perak, uang dollar, perhiasan, rekening bank, kartu kredit, lemari penuh berisi pakaian, mobil-mobil model terbaru, dan gemerlap dunia lainnya. Singkatnya, semua bentuk kekayaan yang mereka miliki atau ingin mereka miliki. Mereka berkonsentrasi hanya pada dunia ini, sementara melupakan hari kemudian, hari keabadian. Mereka ditipu oleh wajah kehidupan dunia yang ‘menarik dan memanggil-manggil', dan lupa mengerjakan shalat, atau menyantuni orang miskin, atau menjalani ibadah yang akan membuat mereka kaya di hari akhir.

Padahal seluruh bentangan kenikmatan dunia ini hanyalah sebuah ilusi dan persepsi belaka. Namun demikian, jumlah orang yang memahami kenyataan tersebut sangat terbatas sekali di sepanjang sejarah. Mereka datang dari sejumlah kalangan teolog dan filosof. Intelektual Muslim seperti Imam Rabbani, Muhyiddin ibn al-Arabi, dan Maulana Jami menyadari tanda-tanda ini dari al-Qur'an, dan dengan menggunakan akal mereka. Beberapa filosof Barat seperti George Berkeley telah memahami kenyataan ini dengan akal.

Imam Rabbani menulis dalam Maktubat (Surat-Surat) bahwa seluruh jagat material ini hanyalah ‘ilusi dan persepsi' dan bahwa satu-satunya yang mutlak hanyalah Allah. Imam Rabbani secara eksplisit menyatakan bahwa semua gambaran yang dihadirkan kepada manusia hanyalah ilusi, dan mereka tidak memiliki keberadaannya yang asli ‘di luar sana'.

Imam Jami menyatakan hal yang sama, yang ditemukannya dengan cara mengikuti tanda-tanda dari al-Qur'an dan dengan menggunakan akalnya: “Semua fenomena yang terdapat pada jagat ini merupakan perasaan dan ilusi. Mereka seperti bayangan di cermin atau bayang-bayang.”

Buku ini penting dibaca, karena menyajikan penjelasan yang ilmiah dan akurat tentang kehidupan manusia dalam kerangka menuju ke kehidupan yang abadi. Sebuah paparan yang insya Allah membuahkan keinsyafan bagi pembacanya, sehingga ia bisa menghargai kodrat Allah dan berbagai keajaiban ciptaan-Nya. Lebih dari itu, karya ilmuwan Turki yang bertaraf internasional ini juga memberikan jawaban yang komprehensif atas pertanyaan-pertanyaan yang sering mencuat. Misalnya “Di manakah Allah berada,” “Apakah hari akhir itu,” “Apa sebenarnya kematian itu,” “Apakah ada kehidupan abadi bagi manusia,” atau “Apakah arti rentang waktu dalam setiap peristiwa.”

Bila Anda termasuk orang yang jemu dengan ulasan yang dangkal, buku ini justru membahas banyak sisi tersembunyi tentang konsep waktu dan kehidupan. Dalil agama yang orisinal yang dipadu dengan data-data sains mutakhir yang dibentangkan sang penulis, boleh jadi membuat Anda makin terpikat dengan karya-karya Harun Yahya. (Makmun Nawawi).

Ketiadaan Waktu dan Realitas Takdir , Harun Yahya (Penulis), Aminah Mustari (Penj), Dadi M.H. Basri (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Rabi'ul Awwal 1424 H/Mei 2003 M, Rp. 17.000, xvii + 213 hlm.

Meluruskan Konsep Waktu

Dengan baju ilmiah, Materialisme dan ideologi turunannya tak henti-hentinya menggugat dan mengingkari fakta penciptaan. Beberapa kurun lamanya, dagangannya ini cukup laku juga. Namun sejalan dengan perjalanan waktu, segenap teori yang dibangunnya hancur berkeping-keping. Tragisnya, keruntuhannya itu pun dikukuhkan dengan teori-teori ilmiah dan berbagai temuan mutakhir di bidang sains. Fakta inilah yang dieksplorasi secara gemilang dan meyakinkan oleh Harun Yahya melalui buku-bukunya, seperti juga buku ini.

Bila Materialisme tak pernah percaya akan adanya sesuatu di balik materi—yang mengindikasikan adanya pengingkaran terhadap penciptaan, hal senada juga menyangkut pemahamannya terhadap waktu. Kaum materialis meyakini bahwa waktu bersifat mutlak dan abadi, yang karenanya tak ada yang menciptakan waktu. Padahal faktanya waktu itu bersifat relatif, yang meniscayakan adanya Sang Pencipta. Hal ini tak hanya diberitakan dalam al-Qur'an, tapi juga diperkuat dengan pendapat para fisikawan modern. Dan kepiawaian Harun Yahya dalam meramu dua dalil kebenaran tersebut sungguh tidak diragukan lagi.

Menurut Ilmuwan asal Turki ini, dari penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern disimpulkan bahwa waktu bukanlah kenyataan mutlak seperti yang disangka para materialis, melainkan hanya merupakan persepsi relatif. Yang paling menarik adalah bahwa fakta yang tidak ditemukan sains hingga abad kedua puluh ini diungkapkan kepada umat manusia dalam al-Qur'an sejak empat belas abad yang lalu. Ada berbagai referensi dalam al-Qur'an mengenai relativitas waktu ini.

Fakta yang terbukti secara ilmiah bahwa waktu merupakan persepsi psikologis yang bergantung pada peristiwa, latar, dan kondisi, dapat dilihat di dalam banyak ayat al-Qur'an. Sebagai contoh, seluruh kehidupan seseorang sangat singkat seperti yang dikabarkan dalam al-Qur'an:

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk” (QS. Yunus [10]: 45).

Dalam beberapa ayat ditunjukkan bahwa manusia menganggap waktu berbeda-beda satu sama lain, dan terkadang manusia dapat menganggap waktu yang sangat singkat menjadi waktu yang sangat lama. Percakapan yang terjadi di hari perhitungan di akhirat berikut ini merupkan contoh tentang hal itu.

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'” (QS. al-Mukminun [23]: 112-114).

Ayat-ayat ini merupakan ungkapan manifestasi yang jelas tentang relativitas waktu. Fakta bahwa informasi yang baru saja dipahami oleh ilmuwan abad kedua puluh ini telah diinformasikan kepada manusia 1400 tahun yang lalu di dalam al-Qur'an, merupakan tanda bahwa wahyu ini adalah dari Allah, yang meliputi keseluruhan waktu dan ruang. Dia-lah (Allah) Yang menciptakan waktu, dan tidak dibatasi oleh waktu itu sendiri. Sementara manusia, bukankah untuk mengetahui waktu tidurnya saja tidak tahu?

Dengan demikian, sangatlah tidak masuk akal untuk mempertahankan pernyataan bahwa waktu adalah mutlak—sebagaimana keyakinan para penganut Materialisme.

Mengapa Harun Yahya, penulis produktif ini tergugah untuk meluruskan konsep waktu, dan menekankan bahwa waktu itu sangat relatif? Karena hal ini bertautan dengan konsep takdir—yang merupakan pengetahuan sempurna Allah tentang peristiwa masa lalu dan masa mendatang. Sebuah konsep yang tidak dipahami dengan baik oleh kebanyakan orang, terutama para materialis yang sepenuhnya menolak konsep ini.

Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah mengetahui peristiwa-peristiwa yang belum dilalui. Hal inilah yang menyebabkan mereka gagal dalam memahami kebenaran takdir. Bagaimana pun juga, peristiwa-peristiwa yang belum dialami itu hanyalah belum dialami oleh kita. Sementara Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena Ia yang menciptakan semua itu. Karena alasan inilah, maka masa lalu, masa depan, dan masa kini, semuanya adalah sama saja bagi Allah; bagi-Nya, segala sesuatu telah terjadi dan berakhir.

Kita juga memahami dari apa yang Allah kaitkan dalam al-Qur'an, yakni bahwa waktu itu satu bagi Allah. Banyak kejadian yang tampaknya akan terjadi di masa datang disebutkan dalam al-Qur'an dengan cara demikian, seakan-akan ia telah berlangsung jauh sebelum itu. Dan hal ini hanya bisa dipahami kalau seseorang memahami secara benar konsep takdir, yang—sekali lagi— merupakan pengetahuan sempurna Allah tentang peristiwa masa lalu dan masa mendatang.

Maka selain menegaskan relativitas waktu, buku ini juga insya Allah makin menambah keimanan kita terhadap takdir Allah. (Makmun Nawawi).

Keindahan al-Qur'an yang Menakjubkan—Buku Bantu Memahami Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an , Sayyid Quthb (Penulis), Bahrun Abu Bakar, Lc. (Penj), Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc (Peny.), Robbani Press, Sya‘ban 1425 H/September 2004 M, XI+471 hlm.

Huruf, Kata, dan Ayat dalam al-Qur'an

Para peminat tafsir di Indonesia, bahkan di dunia, tentu sudah mengenal Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an . Karena tafsir ini merupakan rujukan terpercaya bagi para aktivis Islam. Di kalangan para aktivis Islam, Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an memang mempunyai tempat spesial. Ia bukan hanya sederetan kata demi kata tentang tafsir al-Qur'an, tapi juga merupakan saksi nyata dari kehidupan mufassirnya sendiri. Karya ini merupakan perpaduan dari hasil perenungan dan pengalaman seorang Sayyid Quthb, dan cukup laris pula dikutip dan ditelaah orang.

Anis Matta, intelektual dan aktivis Islam, juga menyanjung karya ini—sebagaimana tersimbul dalam catatannya berikut: “ Fi Zhilalil-Qur'an , karya masterpiece sang syahid Sayyid Quthb ini adalah tafsir paling monumental abad ke-20. Tafsir ini ditulis dengan metodologi yang sama sekali baru dan mencoba menghadirkan al-Qur'an dengan semangat dan nuansa seperti ketika ia pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW., agar wahyu ini bekerja sebagaimana ia dahulu bekerja: membangun sebuah komunitas kecil yang mendiami gurun tandus jazirah Arab dan mengubah para penggembala kambing itu menjadi pembangun peradaban dan pemimpin umat manusia.”

Anis Matta juga menambahkan: “Al-Qur'an adalah telaga tempat umat ini dapat menemukan kebesarannya. Dan yang menulis tafsir ini, kata Sayyid Quthb tentang dirinya, adalah seorang yang telah melanglang buana selama lebih dari empat tahun dalam dunia pemikiran dan kebudayaan, membaca semua karya pemikiran manusia, untuk kemudian kembali kepada al-Qur'an dan menemukan semua yang ia cari di sana; dalam lembaran-lembaran wahyu yang selama ini ada di sisinya. Sayyid Quthb merampungkan tafsir ini di dalam penjara selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun, kemudian mengakhiri hidupnya di tiang gantungan sebagai syahid. Ia membayar keyakinannya dengan darahnya. Dan tafsir ini adalah lukisan keyakinannya. Ia adalah tafsir iman atas al-Qur'an, kata adiknya, Muhammad Quthb.”

Sayyid Quthb adalah orang yang memang punya pengalaman yang sangat kaya dan perenungan yang sangat menukik dalam berinteraksi dengan al-Qur'an. Berbagai pengalaman dan perenungan itu sebagian besar dituangkan dalam Tafsir Zhilal -nya. Namun karena ingin menjaga komitmen metodologis tafsirnya yang khas Fi Zhilalil-Qur'an , rupanya beragam pengalaman dan perenungannya itu tidak semuanya bisa dituangkan di dalam Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an . Karena itu, Sayyid Quthb kemudian menulis beberapa buku lainnya untuk mengabadikan perenungan-perenungannya yang sangat berharga itu. Salah satunya adalah buku ini, yang edisi aslinya berjudul at-Tashwir al-Fanni fil-Qur'an .

Oleh Sayyid Quthb sendiri, buku ini dijadikan sebagai buku komplementer dalam memahami Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an , sehingga dalam tafsir tersebut Sayyid Quthb seringkali meminta kepada pembacanya agar merujuk buku ini guna memahami sejumlah permasalahan terkait, yang memang memerlukan kajian mendalam melalui buku spesifik seperti itu. Tanpa merujuk buku ini, para pembaca Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an akan merasakan sesuatu yang hilang.

Sayyid Quthb sungguh beruntung dan telah meraih anugerah yang teramat besar, karena sejak usia yang paling dini sekali ia telah berhasil dan diberi kesempatan untuk mengapresiasi al-Qur'an. Mari kita simak penuturannya berikut ini: “Sesungguhnya aku telah membaca al-Qur'an sejak masih kecil, dan wawasan pengetahuanku tentang al-Qur'an saat itu belum mencapai tingkat memahami cakrawala maknanya, dan belum dapat meliputi kebesaran tujuannya. Akan tetapi, aku menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam diriku tentangnya.

Sesungguhnya hal yang terlintas dalam imajinasiku yang sederhana karena masih kecil, adalah terperagakannya sebagian gambaran-gambaran yang aku bayangkan dari celah-celah ungkapan al-Qur'an. Sesungguhnya hal ini benar-benar merupakan gambaran yang sederhana, tetapi membangkitkan rasa rindu di dalam diriku kepadanya dan membuat perasaanku menikmatinya, sehingga mendorongku untuk senantiasa merenungkannya dalam masa yang tidak pendek, sedang akau merasa gembira dan bersemangat dengannya.”

Dari penjelajahan yang dilakukan tokoh pergerakan Islam terhadap al-Qur'an ini, kita makin sadar bahwa ternyata huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat dalam al-Qur'an memiliki rohnya masing-masing. Dan semuanya sungguh menakjubkan.

Bumi, langit, matahari, bulan, gunung-gunung, lembah-lembah, rumah-rumah yang dihuni, bekas-bekas peninggalan yang terlantar, tumbuh-tumbuhan, hewan, pepohonan dan buah-buahan, semuanya itu menjadi hidup, menjadi pemandangan-pemandangan yang berbicara kepada makhluk hidup. Di sana tidak ada yang namanya benda mati dan segala sesuatu yang tidak hidup. (Makmun Nawawi)