Resensi Berawal huruf M
M

Madarijus-Salikin; Jenjang Spiritual para Penempuh Jalan Ruhani (2 Jilid) , Ibnul Qayyim al-Jauziyah (Penulis), Abu Sa‘id al-Falahi (Penj), Aunur Rafiq Lc. (Peny), Robbani Press (Telp. 87780250), Jilid I XIV + 535 hlm, Jilid II XIII + 535 hlm.

Membedah Sisi Kejiwaan Manusia

Al-Qur'an adalah kitab Allah yang menunjukkan jalan kepada-Nya bagi yang ingin mengenal-Nya. Ia adalah cahaya-Nya yang cemerlang yang menerangi kegelapan. Ia adalah rahmat yang dihadiahkan-Nya, yang berisi petunjuk untuk kemaslahatan semua makhluk. Ia adalah tali penghubung antara Dia dengan hamba-hamba-Nya ketika tali-tali penghubung lain telah putus berantakan. Ia adalah jalan lurus di mana pikiran sehat tak akan pernah menyimpang darinya Ia adalah peringatan bijaksana yang tidak akan dapat diselewengkan oleh hawa nafsu.

Ia adalah hidangan mulia di mana para ulama tak pernah merasa kenyang dengannya, tak pernah habis keajaibannya, tak pernah punah fleksibilitasnya, tak pernah sirna tanda-tanda kebesarannya, dan tak pernah kontradiktif petunjuk-petunjuknya. Semakin besar perhatian dan penghayatan orang terhadapnya, semakin bertambah pula petunjuk dan pengetahuannya. Setiap kali airnya mengalir, terpancar pula sumber-sumber hikmah darinya.

Dan kitab Madarijus-Salikin ini menjadi bukti, betapa al-Qur'an senantiasa menghidangkan santapan yang selalu segar bagi para pengkaji dan pencintanya. Bagaimana tidak, hanya untuk menerangkan satu ayat dalam al-Qur'an saja, yaitu ayat Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in , Ibnul Qayyim hingga menghabiskan tiga jilid buku besar (sekalipun edisi Indonesia buku ini baru diterjemahkan dua jilid) untuk membedahnya.

Hal ini juga sekaligus menjadi cermin keluasan pengetahuan penulisnya, yang begitu gigih dan tegar dalam menerangkan kebenaran dan membela agama Islam, yang teguh mempertahankan sunnah penghulu para Rasul (Nabi Muhammad), yang penanya tajam menusuk tenggorokan para ahli bid‘ah, dan dengan pedang kebenarannya yang runcing ditebasnya leher para ahli khurafat.

Seperti gurunya (Ibnu Taimiyyah), Ibnul Qayyim juga sangat gigih dalam memberontak otoritas mazhab-mazhab ilmu hukum (fiqih) dan sufisme. Sebagai gantinya, kaum Salaf lazim menggunakan istilah tarbiyah ruhiyah atau tazkiyatun-nafs . Dan keragaman istilah itu sesungguhnya bertemu pada satu titik, yaitu aspek kejiwaan dan spiritual manusia.

Dalam kaitan ini, Ibnul Qayyim telah berjasa memasukkan terminologi qur'ani ke dalam khazanah ilmu tentang jiwa, khususnya menyangkut pendakian seseorang dalam menuju Ilahi. Dari buku Madarijus Salikin ini, kita misalnya diperkenalkan dengan istilah/ manzilah tabattul , ikhbat , tadzakkur , i‘tisham , firar , riyadhah , raghbah , atau ri‘ayah , yang istilah-istilah itu tak masuk ke dalam khazanah “tasawuf konvensional”.

Maqam demi maqam yang dibahas Ibnul Qayyim, kecap demi kecap dari wasiat spiritualnya itu tidak hanya memperlihatkan betapa kayanya bahasa al-Qur'an, namun buku Madarijus Salikin ini juga menyiratkan betapa piawai penulisnya dalam membedah sisi-sisi kejiwaan manusia. Sementara aspek kejiwaan inilah yang menjadi penggerak utama perilaku manusia.

Karena itu, patut dipuji jika Robbani Press menerbitkan karya besar Ibnu Qayyim ini. Bagi penerbit yang lokasinya terletak di bilangan Jakarta Timur ini, ada empat alasan mengapa penerbit ini merasa perlu menerjemahkan dan menerbitkan buku Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah:

Pertama , buku ini merupakan karya tulis Ibnul Qayyim yang paling monumental dalam bidang pembersihan jiwa ( tazkiyatun-nafs atau tarbiyah ruhiyah ). Bahkan buku ini boleh dibilang setara dengan Ihya Ulumiddin karya al-Ghazali. Karena Ibnul Qayyim dikenal sebagai ulama yang sangat ahli dalam membedah aspek-aspek kejiwaan dan spiritual manusia, berikut berbagai terapinya berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah.

Kedua , sekalipun tidak sepenuhnya terhindar dari kesalahan, tetapi secara umum buku ini terbebas dari segala macam israiliyyat atau khurafat yang biasa menyertai buku-buku sufistik, karena penulisnya dikenal sebagai imam kaum salaf yang komit pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu, buku ini terhindar dari kritik tajam para ulama, peneliti, sebagaimana dialami buku Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Beberapa kesalahan yang dilakukan oleh Imam Qayyim dalam buku ini telah diberi catatan kaki dan komentar oleh Abu Hamid al-Fiqqi, muhaqqiq edisi bahasa Arab buku ini dan seorang pendiri dan Amir Jama‘ah Ansharus-Sunnah al-Muhammadiyah, Mesir.

Ketiga , selama beradab-abad buku ini menjadi rujukan para ulama Ahlus Sunnah wal-Jama‘ah dalam masalah-masalah tazkiyatun-nafs dan perjalanan spiritual.

Keempat , kebutuhan gerakan Islam kepada tazkiyah ruhiyah yang semakin dirasakan di tengah arus materialisme yang telah melanda seluruh lapisan masyarakat dan aspek kehidupan manusia, khususnya di negeri kita tercinta Indonesia yang masih sangat memerlukan buku-buku ruhiyah seperti ini. (Abu Mukhlash).

Mengokohkan Aqidah, Menggairahkan Ibadah , Badi‘uz Zaman Sa‘id Nursi (Penulis), Ibtidain Khamzah Khan, Lc., (Penj.), Aunur Rafiq Salih Tamhid Lc. (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Cet. Pertama, Muharram 1425 H/Maret 2004 M, VIII + 155 hlm.

Peran Aqidah dalam Kehidupan

Aqidah atau keimanan adalah modal paling vital dalam kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah dan para sahabatnya tampil menguasai dunia, meski belum menguasai ilmu yang canggih seperti sekarang ini. Kokohnya aqidah juga merupakan sumber kebaikan dan kekuatan yang hakiki, maka tiada ketakutan sedikit pun dalam kamus kehidupan sang Mukmin.

Seandainya bola dunia menjadi bom yang meledak dan menghancurkan pun, orang yang menyembah Allah dan mempunyai hati yang bercahaya tidak pernah merasa takut. Bahkan ia melihat hal itu sebagai bukti kekuasaan Allah, dan menyikapinya dengan penuh kekaguman dan kesenangan. Sedang orang kafir dan fasik yang hatinya mati, meski ia seorang filosof yang cerdas, hanya melihat bintang meteor saja langsung panik dan gemetar.

Hal ini menandaskan bahwa peran aqidah sangat urgen dalam kehidupan. Di sisi lain, konsep keimanan kadang ditangkap dengan abstrak. Sedemikian abstraknya ia sehingga kewajiban kita tak lain hanya mempercayai sepenuhnya apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya.

Meski demikian, agama bukan tak memberikan ruang bagi ikhtiar manusia agar konsep itu bisa menjadi kongkret. Maka pada sisi inilah kita kagum pada Sa‘id Nursi, karena—lewat bukunya ini—ia mahir sekali dalam menurunkan konsep yang tadinya abstrak menjadi ajaran yang mudah nian dipahami.

Banyak konsep fundamental Islam tidak diminati oleh seseorang, hanya karena penyajiannya yang kaku dan verbal. Akhirnya mereka jemu, dan lambat laun si da‘i yang menjelaskannya pun kurang diminati, karena teknik penyampaiannya kurang menyentuh dan menohok.

Maka di sinilah keunggulan Sa‘id Nursi dalam menjelaskan konsep-konsep agama. Ulasannya kaya sekali dengan tamsil-tamsil yang memukau, sehingga tuntunan keimanan yang dijelaskannya menjadi sajian yang amat mengasyikan. Dengan ilustrasinya yang berlimpah dan tertata, konsep aqidah dan ibadah yang dibedahnya menjadi sebuah argumen yang sulit dibantah. Paparannya sangat logis, realistis, dan akrab dengan keseharian. Ia telah berhasil menghadirkan prinsip agama yang tak dogmatis.

Selain itu, gaya bahasa dan penyajiannya juga cukup menyentuh sifat dasariyah manusia. Misalnya ketika ia menerima keluhan dari orang yang enggan shalat: “Mengerjakan shalat memang perbuatan baik dan bagus, tetapi kalau rutin setiap hari dan lima waktu, terasa sangat banyak dan membosankan.” Gerutuan itu lalu dijawab oleh Sa‘id Nursi: wahai belahan jiwaku! Dengarkan lima nasihat dariku, sebagai bantahan atas ajakanmu.

Pertama , wahai jiwaku yang malang… Apakah umurmu abadi? Dan apakah kamu bisa memastikan bahwa kamu akan hidup sampai tahun depan, bahkan sampai besok? Yang membuat kamu bosan mengulang-ulang shalat adalah sangkaanmu bahwa kamu akan hidup abadi, lalu kamu mencari alasan, dan seakan-akan kamu kekal di dunia ini.

Kedua , wahai jiwaku yang rakus. Pada suatu hari kamu pernah makan roti, meminum air, menghirup udara. Apakah ini membuat kamu bosan dan malas? Tentu tidak! Karena berulangnya kebutuhan tidak membuat bosan, bahkan semakin membuat lezat. Karena itu, shalat yang merupakan makanan hati, air kehidupan ruh dan udara penyejuk badan, tentu ia tidak membuat kamu bosan dan malas.

Ketiga , wahai jiwaku yang resah! Sesungguhnya kamu merasa terbebani oleh berbagai ibadah yang kamu kerjakan sejak dulu hingga sekarang, juga beratnya shalat dan berbagai kesulitan masa lalu. Kemudian kamu berpikir tentang kewajiban ibadah untuk masa yang akan datang dan pengabdian menjalankan shalat dan berpikir pula tentang berbagai musibah, lalu kamu menampakkan keresahan dan tidak sabar, apakah ini sesuatu yang ada dalam pikiran orang yang berakal?

Keempat , wahai jiwaku yang ceroboh, apakah pelaksanaan ibadah ini tanpa ada hasil dan tanpa tujuan? Apakah hasilnya hanya sedikit? Sampai kamu bosan melaksanakannya, padahal sebagian di antara kamu mampu bekerja sampai sore tanpa lelah dalam mencari nafkah.

Sesungguhnya shalat yang menjadi kekuatan hatimu ini adalah bekal dan penerang di alam yang kamu akan singgahi, yaitu alam kubur. Ia juga sebagai pembela dan pembebas di pengadilan yang sudah pasti kamu akan digiring kepadanya. Ia akan menjadi cahaya dan buraq di shirathal mustaqim yang sudah pasti akan kamu lewati. Bila hasil shalat seperti ini, apakah bisa dikatakan tanpa tujuan dan tanpa hasil? Atau justru ia adalah pekerjaan yang pahalanya sangat besar?

Kelima , wahai jiwaku yang tertipu oleh dunia! Apakah kebosananmu dan kemalasanmu dalam menjalankan ibadah shalat, karena kamu sibuk mencari dunia? Ataukah kamu tidak punya waktu untuk melaksanakannya karena tekanan biaya hidup?!

Aneh! Apakah kamu diciptakan untuk dunia saja, sehingga kamu menggunakan seluruh waktumu untuknya? Ketahuilah bahwa kamu tidak bisa menandingi burung kecil dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia, meskipun secara fitrah kamu adalah makhluk yang paling mulia kalau dibanding dengan semua binatang. (Makmun Nawawi)

Manhaj Haraki

Bukan hanya Cerita Masa Lalu

Kita percaya bahwa sejarah bukan hanya cerita tentang serpihan peristiwa masa lalu, namun rangkaian kehidupan umat manusia itu juga memberikan pelajaran tak terperi pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Bila al-Qur'an banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu, dan hadits pun banyak merekam beragam peristiwa penting dalam perjuangan Islam, maka semua itu cukup menjadi landasan bagi kita untuk memberikan porsi kajian yang besar pada sirah , lebih-lebih sirah nabawiyah (narasi kehidupan Nabi).

Karena itu, K.H. Rahmat Abdullah, yang memberi pengantar pada buku ini, melontarkan kritiknya terhadap kerangka keilmuan yang dibentuk oleh para ulama dahulu, yaitu akidah, fiqih, dan akhlak. Ketiga kajian ini diakuinya memang cukup mampu membentuk pribadi Muslim yang sadar akan kewajibannya terhadap Allah dan masyarakat. Namun menurutnya ada yang terputus.

Ketiga kajian ini jelas kekurangan satu hal pokok, yaitu “mata rantai yang akan menghubungkan mereka dengan Rasulullah, bahkan dengan Nabi-Nabi sebelum-nya.” Ini disebabkan tiadanya kajian sirah ataupun sejarah Islam yang berdasar-kan wa'yu (kesadaran ilmiah). Padahal sekali seseorang berbicara sirah, maka ia pasti merupakan bagian integral dan ummatan wahidah . Ia akan mewarisi spirit masa lampau umat Islam yang sangat kaya dan menumbuhkan militansi. Karena itu, putusnya mereka dengan sirah membuat lemahnya girah dan ruhul jihad.

Di sinilah peran penting yang dimainkan buku sebesar Manhaj Haraki ini. Sejarah yang ditulis da'i mujahid ini menampilkan sosok yang jauh berbeda dengan para penulis “ilmiah” pada umumnya. Penghayatan terhadap ruhul jihad dalam kehidupan Rasulullah merupakan modal utamanya. Hal ini karena mereka berada pada satu alur yang sama dengan Rasulullah, yaitu harakah dan dakwah. Maka penggambaran yang mereka sajikan bukan lagi masalah kronologis belaka, tetapi sudah masuk pada isi pembahasan yang mengasyikkan dan sangat bermanfaat bagi dakwah dan pergerakan.

Buku-buku sejarah memang telah banyak ditulis orang. Namun kitab Manhaj Haraki dalam Sirah Nabi Saw. ini tetap harus disambut dengan antusiasme yang besar, karena karya Munir Muhammad al-Ghadban ini menjadi pengecualian dari buku-buku itu. Bukan hanya karena studinya yang lebih spesifik, yaitu kajian tentang pergerakan dan perjuangan politik dalam sirah nabawiyyah , namun Munir al-Ghadban juga menyajikan fakta dan data, yang dirangkai dengan studinya yang ekstensif, analisa yang tajam dan mengagumkan dengan daya kritis yang tinggi.

Tokoh pergerakan yang juga dosen di Universitas Ummul Qura Saudi Arabia dan di Jami‘ah al-Iman Yaman ini memperlihatkan kepiawaiannya yang luar biasa sekali dalam mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontemporer. Marhalah (periode) demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan sangat memikat sekali, seraya dibedah watak dan karakteristiknya, lalu diproyeksikan dan direkonstruksi kembali ke dalam iklim pergerakan Islam modern.

Dalam jilid pertama buku ini, ada empat periode yang dibahas tuntas oleh Munir Muhammad Ghadban. Pertama, periode berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan struktur organisasi. Kedua, berdakwah secara terang-terangan dan (tetap) merahasiakan struktur organisasi. Ketiga, mendirikan negara. Keempat, negara dan penguatan pilar-pilarnya.

Ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, tumbang dan berguguran, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali. Harus diakui, kitab ini menjadi bacaan ‘wajib' bagi pada aktivis da‘wah dan Harakah Islam, serta para peminat sejarah Islam. Juga menjadi bacaan yang bermutu bagi kaum muslimin pada umumnya. Karena kitab ini nyaris sempurna dalam mengupas dan merunut manhaj haraki atau langkah-langkah terprogram yang ditempuh Nabi saw. dalam gerakan dakwahnya, sejak kenabiannya sampai berpulang kepada Allah.

Jika kita ingin agar gerakan Islam yang kita lakukan berjalan secara benar, maka kita harus melacak tahapan-tahapan pergerakan Rasulullah langkah demi langkah serta mengikuti langkah-langkah tersebut. Allah berfirman: “Sesungguh-nya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (al-Ahzab: 21).

Lebih dari itu, buku ini tidak hanya memberikan jawaban terhadap pertanyaan ”Pendekatan macam apa yang harus diterapkan Harakah Islam kontemporer dalam kondisi seperti sekarang ini”, namun buku ini juga lahir dari pengalaman riil penulisnya yang sudah malang melintang dalam belantara Harakah Islam. Inilah “roh” yang menjadikan buku ini hidup, bukan sekadar “keasyikan intelektual” belaka. (Makmun Nawawi)

________________


Dengan mengucapkan jazakamullah kepada Ustadz Rahmat Abdullah yang telah menorehkan catatan berharga dalam penerbitan buku ini, kami persilahkan Anda untuk segera mengkajinya.

“Alhamdulillah!” begitulah pujian yang harus kami panjatkan mengiringi penerbitan buku Manhaj Haraki—Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi Saw . jilid kedua ini. Selain sebagai tanda syukur dari begitu banyak nikmat yang sudah kita terima dari-Nya, pujian tersebut juga merupakan kesyukuran khusus kami atas terbitnya karya Munir Muhammad al-Ghadban ini, yang diluncurkan hampir bersamaan dengan jilid kesatu buku ini. Dengan demikian, maka Anda, pembaca yang budiman, bisa memperoleh pemikiran yang utuh dan menyeluruh dari tokoh pergerakan kelahiran Syria ini.

Sebagaimana yang kami kemukakan dalam jilid kesatu buku ini, ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, tumbang dan berguguran, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan fenomena terakhir yang menjangkiti bangsa ini, di mana banyak aktivis Islam yang diburu dan diciduk oleh orang tak dikenal, maka buku ini mempunyai relevasi yang kuat sekali. Karena dengan berbagai macam contoh peristiwa yang ditampilkannya, kitab ini memberikan penjelasan yang luas sekali terhadap pertanyaan “Strategi macam apa yang harus diterapkan Harakah Islam dalam kondisi seperti sekarang ini?”

Karya berharga tentang sirah nabawiyah (narasi kehidupan Nabi) ini tidak hanya menyajikan fakta dan data dari setiap fase sejarah yang dilewatkan Nabi, namun penulisnya juga mempresentasikan analisa yang cerdas sekali seputar strategi pergerakan dan perjuangan politik yang dilakukan Sang Utusan. Ulasan Munir al-Ghadban yang memukau tentang berbagai karakteristik yang mewarnai setiap marhalah (periode) perjuangan Rasulullah, seyogianya memberikan pencerahan yang berlimpah bagi para aktivis da‘wah dan harakah Islam modern, bahkan ia mesti menjadi tuntunan dari zaman ke zaman.

Seraya mengucapkan jazakamullah kepada Ustadz Rahmat Abdullah yang telah mengguratkan catatan berharga dalam penerbitan buku ini, kami persilahkan Anda untuk segera mengkajinya.

uku-buku sejarah memang telah banyak ditulis orang, namun kitab Manhaj Haraki ini tetap harus disambut dengan antusiasme yang besar, karena karya Munir al-Ghadban ini menjadi pengecualian dari buku-buku itu. Bukan hanya karena kajiannya yang lebih spesifik, yaitu tentang pergerakan dalam sirah nabawiyah , namun penulis juga menyajikan fakta dan data, yang dirangkai dengan studi yang ekstensif dan analisa yang mengagumkan dengan daya kritis yang tinggi.

Tokoh pergerakan yang juga dosen di sejumlah universitas Timur Tengah ini memperlihatkan kepiawaiannya yang luar biasa sekali dalam mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi Harakah Islam kontemporer. Marhalah demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan amat memikat, seraya dibedah karakteristiknya, lalu direkonstruksi ke dalam iklim Harakah Islam modern.

Ketika banyak pergerakan Islam kontemporer layu sebelum berkembang, buku ini insya Allah memberikan suntikan energi yang dahsyat sekali, sehingga menjadi referensi ‘wajib' bagi para aktivis da‘wah dan harakah Islam, para peminat tarikh Islam, juga menjadi bacaan bermutu bagi kaum muslimin pada umumnya. Lebih dari itu, publikasi karya ini bukan hanya karena “keasyikan intelektual” penulisnya, tapi justru lahir dari pengalaman riilnya yang sudah malang melintang dalam belantara Harakah Islam. Inilah “roh” yang menjadikan buku ini hidup.

•  Tercerabut dari sejarahnya.
•  Banyak pergerakan modern menuai kegagalan
•  yang biasanya dirangkai dengan pesan agar semua itu menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita
•  Kritis.
•  Bagaimana penulis begitu lincah sekali dalam menggambarkan tahap demi tahap pergerakan Nabi.
•  Kajian fiqih juga akan kering, bila tidak merujuk pada sirah Nabi.
•  Sirah mengajarkan kearifan.
•  Bukan keasyikan intelektual semata, rasikhun fil-ilm.
•  Bila gerakan Islam gagal di tengah jalan, penting menyimak buku ini
•  Tidak hanya menyajikan fakta, tapi juga membentangkan analisa yang radikal, seraya membandingkannya dan merekostruksinya ke dalam era pergerakan Islam mutakhir
•  Sebuah penulisan sejarah yang baru
•  Pendekatan yang asyik.
•  Berangkat dari pengalaman riil
•  Memberikan analisa yang—harus dibilang—mengagumkan.
•  Kajian yang ekstensif

Membangun Keteguhan Seorang Mukmin , Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa (Penulis), Kiyai Ali Mahmudi (Penj.), Tri Joko Setiyadi (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Cet. Pertama, Rabi'ul Awwal 1425 H/Mei 2004 M, XVI+238 hlm.

Pentingnya Keteguhan dalam Hidup

Keteguhan ( ats-tsabat ) adalah hal yang mutlak diperlukan oleh manusia dalam hidup ini, bukan hanya dalam kehidupan beragama, tapi juga dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia. Sementara teguh dalam beragama adalah istiqamah atas petunjuk, memegang teguh ketakwaan, mengendalikan diri untuk menyusuri jalan kebenaran dan kebaikan, tidak berpaling ke kanan dan ke kiri mengikuti hawa nafsu dan kehendak setan, serta segera kembali dan bertobat di saat mengerjakan dosa atau condong kepada dunia.

Keteguhan bisa tampil dengan teguh dalam memeluk agama Allah SWT, tetap komitmen terhadap agama-Nya, teguh dalam memegang prinsip Islam, atau kuat dalam memegang janji. Karena meninggalkan janji merupakan perbuatan buruk dan tanpa ragu hal itu menunjukkan kebimbangan dan ketidakstabilan pelakunya.

Mengapa keteguhan hati begitu penting dalam hidup ini, karena keteguhan hati menunjukkan kebenaran manhaj yang ditempuh dan mendorong timbulnya kepercayaan. Keteguhan hati juga merupakan cermin bagi kepribadian seseorang dan ketenangan bagi orang di sekitarnya. Keteguhan hati merupakan syarat menuju keagungan dan keluhuran dunia dan akhirat. Selain itu, keteguhan hati juga merupakan jalan mencapai tujuan.

Orang yang hendak mengubah gerak sejarah dan ingin agar manusia mengabdi kepada Rabb semesta alam, dan orang yang bekerja untuk meninggikan agama-Nya dan mengibarkan bendera-Nya tidak boleh lepas dari keteguhan hati. Tanpa keteguhan hati, ia tidak akan dapat mencapai semua itu kecuali hanya dalam khayalan dan angan-angan belaka.

Banyak tokoh yang telah memberikan contoh berharga dari suatu keteguhan, misalnya Nabi Ibrahim alaihissalam. Tidaklah beriman kepada beliau kecuali sedikit dari kaumnya. Bahkan beliau dimusuhi orang-orang terdekatnya, keluarganya sendiri, yang melemparnya ke dalam api. Beliau pun diuji Allah SWT dengan disuruh menyembelih putranya yang masih belia, yaitu Isma'il. Namun ujian-ujian tersebut hanya menambah keteguhan beliau memegang kebenaran dan kesucian.

Di sisi lain, sejarah juga mencatat, betapa banyak orang yang tadinya Muslim, lalu menceburkan diri dalam kenistaan dan kemalangan dengan kemurtadannya lantaran ats-tsabat telah lepas dari dirinya. Simak misalnya kisah Bal'am bin Ba'ura, Ubaidillah bin Jahsy, atau ar-Rahhal bin Unfut. Di belakang ketiga orang itu, ada lagi kisah sedih yang menimpa manusia-manusia malang lantaran keteguhan dalam dirinya telah tanggal. Ada an-Nu'man bin Muhammad al-Maghribi, Ibnu Saqqa, al-Manshur Ali bin Aibik, Abdullah al-Qashimin, ada pula Amal Dunqul—yang mati dalam keadaan sesat, padahal ia seorang yang berilmu. Na'udzu billahi min dzalik .

Mengapa hal itu terjadi? Karena memang banyak faktor yang bisa meruntuhkan keteguhan seseorang, baik pengaruh internal maupun eksternal. Secara umum, ada tiga hal yang bisa menggerogoti keteguhan seseorang. Dan Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa, menjelaskan ketiganya dengan rinci sekali dalam bukunya ini.

Pertama , berbagai penyakit hati. Misalnya rasa khawatir, ujub, putus asa, merasa lebih mulia, ambisi terhadap jabatan dan harta kekayaan, ambisi terhadap nafsu syahwat, cemburu dan dengki, melampau batas atau berlebih-lebihan. Sikap berlebih-lebihan merupakan penyakit mematikan. Ia telah merusak banyak orang dari kaum Muslimin zaman dahulu sehingga mereka menjadi orang-orang khawarij. Karena itu Nabi berpesan: “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang yang memberat-beratkan agama ini, melainkan ia akan terkalahkan. Oleh karena itu, luruskanlah dan bersahajalah (tidak berlebihan)” (HR. Bukhari).

Kedua , berbagai penyakit tingkah laku. Misalnya sikap memperlonggar dan mempermudah dosa kecil, tergesa-gesa, banyak bergurau dan tidak ada keseriusan. Bergurau secara sederhana dan bertujuan positif termasuk sunnah Rasulullah. Beliau kadang bergurau dengan para sahabatnya, dan Nabi tidak berkata kecuali yang benar. Namun saat ini, ada sekelompok orang yang senda guraunya mengalahkan keseriusannya. Mereka sering berkelakar sehingga hampir di mana saja bergurau dan membuat orang tertawa.

Faktor ketiga yang meruntuhkan keteguhan seseorang adalah berbagai pengaruh dari luar. Misalnya fitnah, ujian dan cobaan. Perselisihan dan bercerai berainya kaum Muslimin, tekanan keluarga dan anak, pengaruh negatif dari sarana informasi musuh, dan masyarakat yang rusak.

Tentu saja penulis tidak membiarkan keteguhan kita terus terkikis, maka dalam buku ini juga ia merumuskan formula yang mantap agar sifat ats-stabat kita langgeng. Misalnya dengan doa, mentadaburi al-Qur'an, berhubungan dengan Allah, bersahabat dengan orang-orang shaleh, mereguk tarbiyah yang benar, membaca sirah, dan banyak cara lainnya yang dipaparkan dengan gamblang.

Dalam situasi yang sarat dengan jebakan, rayuan, dan tantangan yang dihadapi kaum Muslimin seperti sekarang, kajian yang diangkat Muhammad Hasan mengena sekali. Ia sangat cakap dalam meyakinkan pembacanya perihal pentingnya ats-tsabat dalam kehidupan ini. Segenap umat Islam yang menginginkan kehidupan yang lurus, lalu menemui Rabb-nya dengan hati yang damai, perlu meresapi buku ini. (Makmun Nawawi).