Resensi Berawal huruf P
P

Panduan Lengkap Ibadah Haji dan Umroh
Teman Menyenangkan bagi Jama‘ah Haji

Oleh Abu Mukhlash

30 Desember lalu, sebagian para Tamu Allah sudah pergi meninggalkan Tanah Air untuk mewujudkan niat sucinya, yaitu beribadah haji. Sebanyak 3970 calon haji (calhaj) Indonesia kelompok terbang (kloter) pertama telah dilepas oleh Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar. Pelepasan yang dilakukan secara serempak dari sembilan embarkasi tersebut sekaligus menandai awal pemberangkatan dari seluruh calhaj Indonesia yang berjumlah 205.000 jamaah.

Untuk menambah kekhusyu‘an prosesi ibadah tahunan dan mengiringi kepergian jamaah haji itulah, rupanya buku Panduan Lengkap Ibadah Haji dan Umroh ini diterbitkan. Kendati kecil, buku ini menyajikan uraian yang lengkap tentang fiqih haji dan umroh. Hampir semua persoalan yang bertautan dengan ibadah haji dan umroh dibahas tuntas di dalamnya. Mulai dari makna haji, pensyari‘atannya, syaratnya, fadhilah atau keutamaannya, adab (etika) bepergiannya, macam-macamnya, rukunnya, wajibnya, hingga ulasan tentang sifat haji dan umroh.

Selain menyertakan ulasan perihal binatang hadyu (korban), miqat zamani dan makani, adab ziarah ke masjid Nabi, dan larangan-larangan ihram, penulis juga tak lupa mengingatkan tentang beragam kesalahan yang sering dilakukan oleh para jama‘ah haji dan umroh. Baik kesalahan yang dilakukan ketika ihram, talbiyah, saat memasuki Masjidil-Haram, sewaktu sa‘i, thawaf, ketika mabit di Mina, dan kesalahan-kesalahan lainnya dari seluruh rangkaian manasik haji.

Ketika masuk ke Masjidil-Haram misalnya, banyak orang meyakini bahwa mereka harus memasukinya melalui pintu khusus. Padahal yang benar adalah mereka boleh memasukinya dari pintu mana saja. Demikian pula dengan dzikir yang dibacanya, banyak di antara jamaah haji yang melafalkan dzikir-dzikir tertentu yang sengaja dibuatnya ketika memasuki Masjidil-Haram. Padahal tidak ada dzikir khusus yang datang dari Rasulullah untuk memasukinya selain dzikir yang sifatnya umum.

Abu Umar an-Nadwi, penulis buku ini, juga memberikan taushiyah (pesan) khusus untuk jamaah wanita. Setidaknya, ada enam belas poin penting yang harus dijaga oleh jamaah haji wanita yang ingin memperoleh kualitas haji mabrur. Misalnya beliau menyarankan agar jamaah wanita jangan menjadi penyebab rusaknya haji seorang pria. Caranya adalah dengan memancangkan niat yang ikhlas karena Allah, jangan keluar dari hotel atau pemondokan dengan bersolek dan memakai wewangian, jangan ikhtilath (campur baur) dengan pria yang bukan mahram, atau dengan menghindari desakan-desakan saat thawaf.

Kuntuman doa dalam haji dan umrah, serta doa-doa umum lainnya yang terangkum pula di sini, dikemas dengan disertai transliterasi (penyalinan)nya dalam bahasa Indonesia. Bagi jamaah yang belum lancar membaca teks Arab, model penulisan seperti ini tentu saja sangat menolong, bahkan memanjakan mereka. Sehingga mereka bisa memanfaatkan ibadah haji mereka secara optimal, yaitu dengan menggeremangkan rupa-rupa doa yang ma'tsur (yang diajarkan oleh Rasulullah).

Doa dan dzikir macam apa yang harus dibaca oleh jamaah haji, tersaji dalam buku ini. Misalnya doa ketika keluar rumah, meninggalkan keluarga dan sanak saudara, naik kendaraan, ketika bertolak untuk pergi, saat singgah di sebuah tempat untuk istriahat, atau ketika pulang ke kampung halaman.

Dengan begitu, buku ini memberikan peluang yang besar bagi pembaca yang hendak pergi menunaikan haji untuk meraih doa yang mustajab, karena Rasulullah menjanjikan bahwa salah satu doa yang maqbul adalah doa seorang musafir. Sabda baginda: “Ada tiga doa yang diijabah dan tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu doa si mazhlum (orang yang dianiaya), doa musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Melalui buku ini, penulis juga mengingatkan jama‘ah haji dan umroh agar jangan hanya puas dengan rampungnya manasik dan prosesi ibadah mereka, namun yang lebih penting lagi adalah selepas haji dan umroh itu. Maka Abu Umar an-Nadwi pun menutup buku ini dengan ulasan tentang rangkaian amal yang harus dilakukan oleh para jama‘ah setelah haji dan umroh.

Menurutnya, diterima atau tidaknya ibadah haji seseorang justru tercermin dari sepak terjang dirinya setelah kembali dari haji. Jangan mengira bahwa dosa dan kesalahan seseorang telah hapus semuanya hanya karena haji dan umroh, sehingga setelah usai dari hajinya lalu melakukan kemaksiatan dan pelanggaran ajaran agama kembali.

Dengan bahasanya yang ringan dan mudah, namun sarat isinya, insya Allah buku kecil ini bisa menjadi rujukan dan ‘teman' yang menyenangkan bagi Anda, jamaah haji dan umrah. Dan itulah misi yang diusung oleh buku ini, sebagaimana tersimbul dari judul asli buku ini— Anisul-Hajj wal-Mu‘tamir (Teman yang Menyenangkan bagi Jama‘ah Haji dan Umroh).

____________________

Dan seperti Anda, kami pun berharap moga Anda menjadi haji yang mabrur.

Namun penulis juga mengingatkan bahwa

Dengan bahasanya yang ringan dan mudah, namun sarat isinya, insya Allah buku kecil ini bisa menjadi rujukan dan ‘teman' yang menyenangkan bagi Anda, jama‘ah haji dan umrah. Dan seperti Anda, kami pun berharap moga Anda menjadi haji yang mabrur.

ombongan haji Pembaca yang budiman, kami sering diminta oleh banyak pihak agar kami menerbitkan buku-buku yang bertemakan ‘tetap'. Artinya, tema-tema keislaman yang nyaris tidak memerlukan penafsiran baru, seperti buku tentang shalat, shaum, Isra Mi‘raj, dan lain-lain. Tentu saja kami harus mengucapkan jazakumullah (moga Allah membalas Anda) atas masukan berharga itu, sekalipun kami memang telah berniat untuk meluncurkannya, bersanding dengan banyak penerbit lain yang menerbitkan buku-buku sejenis.

Maka demi memenuhi permintaan dari ‘pembaca fanatik Robbani Press'—kalau kami boleh menyebut demikian—itulah, kami hadirkan buku Panduan Praktis Haji dan Umrah ini. Sengaja kami pilih buku ini, karena memuat uraian yang lengkap tentang fiqih haji dan umrah. Hampir semua persoalan yang bertautan dengan ibadah haji dan umrah dijelaskan di dalamnya. Mulai dari makna haji, pensyari‘atannya, syaratnya, fadhilahnya, adab (etika) bepergiannya, macam-macamnya, rukunnya, wajibnya, hingga ulasan tentang sifat haji dan umrah.

Selain menyertakan ulasan perihal binatang hadyu (korban), miqat, larangan-larangan ihram, penulis juga tak lupa mengingatkan tentang beragam kesalahan yang sering dilakukan oleh para jama‘ah haji dan umrah. Bahkan secara khusus, Abu Umar an-Nadwi memberikan taushiyahnya terhadap jama‘ah wanita yang ingin meraih haji mabrur. Kuntuman doa dalam haji dan umrah, serta doa-doa umum lainnya yang terangkum pula di sini, sengaja kami kemas dengan menambahkan transliterasi (penyalinan)nya dalam bahasa Indonesia. Tujuannya tidak lain agar buku ini bisa disimak dengan semudah dan sepraktis mungkin, terutama bagi jama‘ah yang belum lancar membaca teks Arab.

Melalui buku ini, penulis juga mengingatkan jama‘ah haji dan umrah agar jangan hanya puas dengan rampungnya manasik dan prosesi ibadah mereka, namun yang lebih penting lagi justru selepas haji dan umrah itu. Maka Abu Umar an-Nadwi pun menutup buku ini dengan ulasan tentang amal apa yang harus dilakukan oleh para jama‘ah setelah haji dan umrah.

Dengan bahasanya yang ringan dan mudah, namun sarat isinya, insya Allah buku kecil ini bisa menjadi rujukan dan ‘teman' yang menyenangkan bagi Anda, jama‘ah haji dan umrah. Dan seperti Anda, kami pun berharap moga Anda menjadi haji yang mabrur.

Psikologi Kesuksesan—Belajar dari Kegagalan dan Keberhasilan
KESUKSESAN BISA DIRAIH OLEH SIAPA PUN

Kegagalan adalah hal biasa dalam kehidupan. Hanya bagaimana kita menyikapi kegagalan tersebut, sehingga bisa menjadi cemeti dan menjadi tangga menuju kesuksesan. Itulah kunci yang dimiliki oleh banyak tokoh besar yang lahir di dunia ini. Sukses gemilang yang berhasil mereka raih justru buah dari kegagalan demi kegagalan yang menerpa mereka.

Apakah Anda terus berkubang dalam kegagalan? Jangan cemas, karena tidak ada yang tidak mungkin untuk meraih kesuksesan bagi orang yang dapat mengambil pelajaran dari kegagalan yang dialaminya.

Anda beruntung bila dapat menyimak buku ini, karena Maulana Wahiduddin Khan, penulis buku ini, sangat cerdas dan tangkas sekali dalam menggugah pembacanya agar seluruh gelegak kehidupan ini dipandang secara positif. Dari roh ayat “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (al-Insyirah: 6), intelektual kelas dunia yang lahir di India ini mengobarkan optimisme yang besar sekali, sehingga tak ada alasan bagi Anda untuk menghadapi hidup ini dengan murung. Karena di balik jalan buntu yang menjegal Anda dalam meniti hidup ini, sebetulnya jalan kesuksesan terbentang luas di hadapan Anda.

Siapa pun Anda, tetap mempunyai potensi untuk menjadi orang sukses. Anda mengenal Mahatma Gandhi? Tentu. Tahukah Anda, ternyata di balik ketenarannya bersemayam sifatnya yang pemalu. Dalam bukunya, My Experiments with Truth , ia mengakui bahwa ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyingkirkan sifat pemalunya tersebut.

Ketika sedang menuntut ilmu di London, ia bergabung dengan masyarakat vegetarian. Pada salah satu pertemuan dia diminta untuk memberikan satu kata sambutan. Dia berdiri, namun tidak mampu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Akhirnya dia hanya mengucapkan beberapa kata ucapan terima kasih dan kemudian duduk. Pada peristiwa yang lain, ketika dia diundang untuk mengemukakan ide-idenya tentang makanan vegetarian, dia telah menyusun pikiran-pikirannya di atas selembar kertas. Namun tetap juga ia tidak mampu untuk membacakannya. Untunglah, seseorang yang merasa kasihan kepadanya, membacakan tulisan tersebut.

Tetapi, sebagaimana yang ditulis Gandhi, kemalangan yang tampak ini berubah menjadi keberuntungan baginya: “Keragu-raguan saya dalam berbicara, yang dulu merupakan sesuatu yang amat menjengkelkan, sekarang menjadi suatu kebahagiaan. Hal tersebut merupakan suatu hikmah besar yang mengajarkan saya untuk menghemat kata-kata. Secara alamiah saya telah membentuk suatu kebiasaan untuk mengendalikan pikiran-pikiran saya. Dan sekarang saya dapat memberikan satu sertifikat kepada diri sendiri bahwa satu kata yang tidak dipikirkan dengan matang sulit keluar dari lidah atau pena saya.”

Dari narasi ini, kita bisa menarik pelajaran bahwa satu kekurangan ternyata bisa berubah menjadi suatu kelebihan. Mahatma Gandhi menjadi terkenal karena sikapnya yang penuh pemikiran dan ekonomis dalam berbicara. Namun ciri ini berasal dari ciri lain yang sedikitnya akan menjadi penghalang kemunculannya. Dengan kata lain, sifat pemalunya telah menghalangi dia untuk berbicara di depan publik; yang kemudian menjadikannya memiliki sifat yang penuh pemikiran dan ekonomis dalam berbicara.

Bagi Wahiduddin Khan, pelajaran dan hikmah bisa dipetik dari mana saja. Bukan hanya dari narasi kehidupan tokoh besar seperti Mahatma Gandhi—sebagaimana yang dikutip di atas, tapi juga dari hal apa saja yang sempat dilihat, didengar, dan dialaminya. Selama manusia mau berpikir dan merenungi tentang segala hal, selama itu pula hikmah bertebaran di mana-mana.

Beragam peristiwa kehidupan yang boleh jadi dianggap remeh dan sepele oleh sebagian orang, bagi Wahiduddin Khan menjadi lautan hikmah yang sayang untuk dilewatkan. Karena berbagai renungan dan pengamatan sosialnya yang dituangkan dalam buku ini, insya Allah akan mampu mencerahkan dan melejitkan kemampuan Anda. Dengan reputasi keilmuannya yang telah teruji, penulis produktif ini menyajikan kupasan yang mengasyikkan sekali perihal kiat-kiat meraih kesuksesan dalam hidup ini.

Salah satu rekomendasi yang diberikannya adalah agar seseorang memiliki tujuan, karena manusia bisa mendapatkan pencapaian tertingginya hanya ketika dia menjalani kehidupan dengan tujuan tertentu. Kehidupan semacam ini mencirikan tingkat tertinggi dari perkembangan manusia.

Orang yang memiliki tujuan tertentu tidak pernah membiarkan diri mereka terperangkap oleh suatu kekacauan, karena itu berarti menjauhkan diri mereka dari tujuan. Seorang manusia yang memiliki tujuan tertentu selalu memandang ke depan, ke masa depan. Dia selalu berpikir tentang konsekuensi-konsekuensi jangka panjang daripada pertimbangan-pertimbangan sesaat. Dia memperhatikan semuanya bukan dari sudut pandang keinginan dan sikap pribadi, namun dari sudut pandang yang realistis.

Hal ini tidak selalu diterjemahkan dengan melakukan berbagai tugas yang jelas, dan benar-benar memiliki tujuan tertentu. Namun suatu kehidupan yang benar-benar sistematis juga merupakan salah satu penemuan manusia dalam statusnya yang tinggi; suatu kehidupan di mana kepribadiannya menampakkan kualitas unik yang dimilikinya. (Makmun Nawawi)