Resensi Berawal huruf T
T

Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an-Juz ‘Amma , Sayyid Quthb (Penulis), Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc (Penj), Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc (Peny.), Robbani Press, Sya‘ban 1424 H/Oktober 2003 M, XXVIII+715 hlm.

Tafsir Paling Monumental di Abad XX

Saya menyambut gembira Fi Zhilalil-Qur'an edisi Bahasa Indonesia ini. Karena tafsir ini merupakan rujukan terpercaya bagi para aktivis Islam. Apalagi edisi terjemahan ini diterbitkan oleh Robbani Press yang sudah dikenal amanah, ilmiah dan baik akurasinya dalam menerjemahkan buku-buku fikrah dan harakah Islamiyah.” Demikian catatan Dr. Mushlih Abdul Karim, Dosen Pascasaraja IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat terbitnya tafsir Fi Zhilalil-Qur'an karya Sayyid Quthb ini.

Di kalangan para aktivis Islam, tafsir Fi Zhilalil-Qur'an memang mempunyai tempat spesial. Ia bukan hanya sederetan kata demi kata tentang tafsir al-Qur'an, tapi juga merupakan saksi nyata dari kehidupan mufassirnya sendiri. Karya ini merupakan perpaduan dari hasil perenungan dan pengalaman seorang Sayyid Quthb, dan cukup laris pula dikutip dan ditelaah orang.

Anis Matta, intelektual dan aktivis Islam, juga menyanjung karya ini—sebagaimana tersimbul dalam catatannya berikut: “ Fi Zhilalil-Qur'an , karya masterpiece sang syahid Sayyid Quthb ini adalah tafsir paling monumental abad ke-20. Tafsir ini ditulis dengan metodologi yang sama sekali baru dan mencoba menghadirkan al-Qur'an dengan semangat dan nuansa seperti ketika ia pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw., agar wahyu ini bekerja sebagaimana ia dahulu bekerja: membangun sebuah komunitas kecil yang mendiami gurun tandus jazirah Arab dan mengubah para penggembala kambing itu menjadi pembangun peradaban dan pemimpin umat manusia.”

Anis Matta juga menambahkan: “Al-Qur'an adalah telaga tempat umat ini dapat menemukan kebesarannya. Dan yang menulis tafsir ini, kata Sayyid Quthb tentang dirinya, adalah seorang yang telah melanglang buana selama lebih dari empat tahun dalam dunia pemikiran dan kebudayaan, membaca semua karya pemikiran manusia, untuk kemudian kembali kepada al-Qur'an dan menemukan semua yang ia cari di sana; dalam lembaran-lembaran wahyu yang selama ini ada di sisinya. Sayyis Quthb merampungkan tafsir ini di dalam penjara selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun, kemudian mengakhiri hidupnya di tiang gantungan sebagai syahid. Ia membayar keyakinannya dengan darahnya. Dan tafsir ini adalah lukisan keyakinannya. Ia adalah tafsir iman atas al-Qur'an, kata adiknya, Muhammad Quthb.”

Dalam versi atau terbitan Darusy-Syuruq Kairo Mesir, karya ini dikemas menjadi enam jilid besar. Sementara edisi Indonesianya insya Allah hadir menjadi tiga belas jilid. Demikian penuturan Nashihin Nizhomuddin, manajer penerbitan Robbani Press—sebuah penerbit yang akrab sebagai “penerbit buku fikrah dan harakah Islamiyah” ini.

Setelah sukses menghadirkan jilid kesatu, kedua, dan ketiga, Robbani Press langsung melesat ke jilid tiga belas atau juz ketiga puluh. Semua tahu kalau juz ini terdiri dari surat-surat pendek. Maka bahasan pada bagian ini pun berkisar dari surat an-Naba' hingga surat an-Nas. Semua suratnya adalah Makkiyah , kecuali surat al-Bayyinah dan surat an-Nashr. Hal yang lebih penting dari surat-surat ini, menurut Sayyid Quthb, adalah karakternya yang khas, yang menjadikannya sebagai satu kesatuan yang nyaris sama, baik dalam tema, arah, irama, gambaran, bayangan, dan uslub -nya secara umum.

Surat-suratnya merupakan ketukan-ketukan yang beruntun terhadap perasaan. Ketukan-ketukan yang sangat keras, kuat dan tinggi. Juga teriakan-teriakan; teriakan-teriakan terhadap orang yang lelap dalam tidurnya. Tidur berat! Atau terhadap orang-orang yang sedang mabuk kepayang.

Ketukan-ketukan dan teriakan-teriakan yang berasal dari surat-surat juz ketiga puluh ini, semuanya menggugah perasan secara beruntun, dengan satu irama dan satu peringatan: bangunlah! Sadarlah! Lihatlah! Perhatikanlah! Pikirkanlah! Renungkanlah! Sesungguhnya di sana ada Tuhan!

Misalnya ayat berikut: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. ‘Abasa: 24). “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan dari apa ia diciptakan” (QS. ath-Thariq: 5). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta; bagaimana ia diciptakan?” (QS. al-Ghasyiyah: 17). Dan seterusnya.

Fokus surat-surat ini adalah terhadap fakta-fakta tertentu yang sedikit jumlahnya, namun sangat besar nilainya dan berat timbangannya. Ia hadir dengan irama-irama tertentu yang menyentuh senar-senar hati, dan diulang-ulang dengan sangat variatif—suatu pengulangan yang mengesankan sebuah perkara dan tujuan tertentu. Surat-surat itu menyapa kita dengan sangat puitis, dengan rima-rima yang terjaga dengan apik.

Dan kehadiran juz ketiga puluh tafsir ini juga terasa lebih istimewa bagi mereka yang gemar membaca ayat-ayat pendek dalam shalatnya. Bila mereka sulit mencapai shalat yang khusyu‘, lantaran kesulitan memahami arti surat yang dibacanya, maka penting sekali memiliki tafsir ini. Karena karya ini bukan hanya menerjemahan ayat-ayat dan surat-surat itu, tapi juga menyelami kandungan ajaran yang dalam. (Makmun Nawawi)

75 Langkah Cemerlang Melahirkan Anak Unggul , Dr. Abdul Karim Bakkar (penulis), Nabhani Idris (Penj.), Abu Sumayyah (Peny.), Robbani Press (Telp. 8778-0250), Cetakan Pertama, Sya‘ban 1425 H/ September 2004 M, xvi + 256 hlm.

Ide Cemerlang Melahirkan Anak Unggul

Anak adalah anugerah, namun mereka juga bisa membuat orang tua gerah kalau tidak pandai-pandai menumbuhkan dan mengarahkannya. Dalam kaitan ini, kasih sayang saja tidak cukup, tapi harus didukung dengan wawasan dan pengetahuan yang memadai dari orang tua.

Kajian dan teori tentang pendidikan anak terus berlahiran, mengiringi lahirnya generasi demi generasi umat manusia di pentas dunia ini. Karena beragam perubahan dan kemajuan dari suatu peradaban, mesti berpengaruh terhadap paradigma manusia dalam memandang kehidupan. Dengan begitu, gaya dan metode dalam mendidik pun mau tidak mau mengalami perubahan.

Contoh yang paling dekat sekali adalah diri kita selaku orang tua. Kita bersyukur, karena orang tua kita telah membesarkan dan mendidik kita hingga menjadi manusia yang berarti seperti sekarang ini. Namun, apakah pendidikan yang kita terapkan terhadap anak-anak kita, harus menjiplak sepenuhnya pada pendekatan yang dilakukan oleh orang tua kita dalam mendidik kita? Tentu saja tidak, karena anak-anak kita telah menghirup udara kehidupan yang jauh berbeda dengan suasana kita dulu.

Anak-anak kita lahir bukan untuk menghadapi tantangan di zaman ini. Tetapi mereka dilahirkan untuk memberi warna bagi sebuah zaman yang akan datang, zaman yang semakin penuh sesak. Merekalah yang harus mewarnai zaman yang diperuntukkan buat mereka. Sekurang-kurangnya sanggup bertahan menghadapi kerasnya tantangan zaman—dan ini adalah selemah-lemah keadaan, sama seperti keadaan kita sekarang. Jika tidak, mereka akan tenggelam oleh jiwa zaman.

Maka kajian, riset, dan tulisan tentang pendidikan pun menjadi sebuah tuntutan, dan memang terus mengalami lompatan-lompatan yang jauh. Salah satunya dibuktikan dengan buku 75 Langkah Cemerlang Melahirkan Anak Unggul ini, yang ditulis oleh Guru Besar dari Universitas Malik Khalid. Selain isinya yang sangat bagus, buku ini menjadi sangat istimewa karena ditopang oleh desain cover yang sangat apik.

Sebagaimana yang terekspresi dari judulnya, buku ini merangkum sejumlah ide-ide cemerlang untuk melahirkan anak yang unggul. Bukan hanya unggul secara intelektual, tapi juga unggul dan jempolan secara spiritual, emosional, dan finansial. Dari pengamatan sosialnya yang tajam yang diramu dengan sejumlah pustaka, penulis sangat genial sekali dalam merumuskan beragam formula yang jitu dalam membentuk anak yang ideal dan menjadi dambaan semua orang, baik orang tuanya, saudaranya, gurunya, maupun temannya.

Dari paparannya yang sangat memukau, kami tidak ragu lagi untuk mengatakan bahwa buku ini wajib dibaca oleh para orang tua yang menginginkan anaknya sebagai penyejuk hati ( qurrota a‘yun ) di dunia, dan sebagai investasi kala di akhirat.

M Fauzil Adhim, yang membubuhkan kata pengantar untuk buku ini juga memujinya. Spesialis penulis buku anak dan keluarga itu berkomentar: “Buku ini mengajak kita membekali diri mendidik anak memasuki masa depan, sehingga kokoh berdiri di atas pijakan Islam dan sanggup menghadapi tantangan zaman yang sangat keras.”

Buku 75 Langkah Cemerlang Melahirkan Anak Unggul termasuk satu dari sedikit buku-buku karya penulis Muslim yang mengajak kita memasuki zaman baru—dalam hal ini mendidik anak kita unggul di zamannya kelak—tanpa kehilangan pijakan. Kita kerap menemui buku yang mengajak kita memasuki zaman modern ini, tetapi kehilangan ‘izzah sebagai seorang Muslim. Di ujung yang lain, banyak buku yang mengajak kita hidup di bawah naungan Islam, tetapi gagap menghadapi perubahan zaman. Buku ini mengajak kita menjadi orang tua Muslim yang berdiri kokoh di atas dasar pijakan Islam dalam mendidik anak di zaman yang semakin pesat kemajuan teknologinya. Bukan sekadar menjadi orang Islam modern.

“Itulah yang menarik dari buku ini.” Demikian komentar M Fauzil Adhim, sang penulis produktif itu. Beberapa judul dalam buku ini memang cukup merangsang para orang tua yang menginginkan anak ideal. Misalnya: Menerima Anak Apa Adanya, , Proses Pendidikan Butuh Waktu Lama, dan Tak Ada Alternatif lain, Tampilkan Watak Asli Kita di Hadapan Anak, Memperkenalkan Anak tentang Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Memperhatikan Kebersihan dan Keindahan Bahasa Anak-Anak, Mengajarkan Anak agar Memaknai Kehidupan, Berpegang Teguh dengan Sunnah.

Judul lain misalnya: Membantu Anak Menemukan Jati Diri, Membantu Anak agar Pikirannya Terbuka dalam Menerima Berbagai Perubahan, Mengajari Anak agar Bisa Membedakan antara yang Alami dengan yang Bukan Alami, Membentuk Pola Pikir Anak agar Bisa Memahami Hukum Sebab-Akibat, Membangun Pikiran pada Anak, bahwa Tidak Mudah Menerima Setiap Berita kecuali Setelah Yakin, Mengembangkan Kemahiran Berpikir, dan masih banyak judul dan bahasan lainnya yang cukup menggigit. (Makmun Nawawi).

Taujihat Ri‘ayah Ma‘nawiyah , Ust. Dr. Ahmad Satori et al. (Penulis), Mahfudz Siddiq (Pengantar), Sitaresmi S. Soekanto (Peny.), Robbani Press, Sya‘ban 1424 H/Oktober 2003 M, XIX+198 hlm.

Menjaga Kesegaran Rohani

Sejak era Nabi dan sahabatnya, hingga kurun kita sekarang—bahkan hingga Allah mewariskan dunia ini, amanah dakwah tidak sunyi dari aneka ragam gempuran, benturan dan rintangan, baik eksternal maupun internal. Dari hari ke hari, dari saat ke saat, bahkan dari generasi ke generasi, tantangan dan sandungan dakwah terus saja menghadang. Sedemikian beratnya hantaman itu hingga tak jarang di antara juru dakwah kita pun oleng dan undur diri dari barisan kafilah suci ini. Padahal tugas agung yang merupakan warisan para Nabi dan Rasul ini tetap harus kita jalani.

Di sinilah peran penting buku Taujihat Ri‘ayah Ma‘nawiyah (Bimbingan untuk Menjaga Rohani) ini. Segenap kaum Muslimin, terutama para da‘i harus menyimaknya, karena berbagai macam taujih, pesan, atau bimbingan dari para ustadz dan aktivis dakwah yang direkam dalam buku ini, insya Allah bisa menjadi penyegar rohani kita. Sehingga seberat apa pun rintangan dan kendala yang menghadang kita dalam mengarungi gelanggang dakwah akan terasa menjadi ringan. Inilah antara lain misi yang diusung oleh buku ini, yaitu menjaga kesegaran rohani agar selalu smart dalam menjalankan tugas luhur dakwah.

Seluruh sandungan yang terjal yang ditemui dalam dakwah itu mau tidak mau harus dihadapi oleh para juru dakwah. Karena kalau banyak manusia yang mempersepsi kehidupan ini sebagai sebuah pertempuran, maka hakikat dakwah itu sendiri adalah sebuah pertempuran, yakni pertempuran antara kebenaran dan kebatilan ( ash-shira‘ bainal-haq wal-bathil ).

Kemenangan dakwah yang diperjuangkan para pendukungnya adalah kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Namun kemenangan bukan hanya harapan semata, tapi juga tanggung jawab bagi para pendukung dakwah. Karena itu, kita harus menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk meraih kemenangan itu. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para Mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (al-Anfal [8]: 65).

Ayat ini tegas menyatakan urgensi kesiapan moralitas (isti'dad ma'nawi) sebagai modal pertama yang harus dipersiapkan maksimal. Sabar—dalam pengertiannya yang utuh—adalah salah satu bentuk isti'dad ma'nawi yang diperlukan untuk melipatgandakan mutu kekuatan dan juga untuk menutup celah-celah kelemahan.

Adalah kebiasaan para Nabi untuk memelihara rohani dan moralitas (ri'ayah ma'nawiyah) barisan tentara Allah (jundullah) sebelum menuju medan jihad. Dengan modal kekokohan moralitas (matanah ma‘nawiyah) , maka setiap kader dakwah akan mampu menampilkan syakhsiyah rabbaniyah -nya sepanjang proses pertarungan.

Dari moralitas yang kokoh ( ma‘nawiyah matinah ) inilah akan lahir berbagai perbuatan baik ( af‘alul-khair ) yang dibutuhkan dalam perjuangan dakwah. Artinya, moralitas yang tangguh akan mampu memproduksi berbagai amal kebajikan, yang menjadi jalan bagi tercapainya kemenangan.

Melalui buku ini, banyak aspek yang dibidik oleh para aktivis dakwah demi untuk melahirkan rohani dan moralitas yang kokoh itu. Ustadz Muhith M. Ishaq menyorot tentang ma‘iyatullah atau kesadaran bahwa Allah senantiasa menyertai kita. Keinsafan inilah yang memompakan optimisme yang besar bagi para ansharud-da‘wah (aktivis dakwah).

Sementara Ustadz Thalhan Nuhin membincang tentang ibadah shalat yang potensial mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tentu saja bukan shalat yang asal-asal saja, karena ketika kita tidak mampu menghadirkan hati merajut benang kekhusyu‘an dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah ini, maka kita tidak akan mampu menangkap untaian makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini.

Bukankah banyak di antara manusia Muslim yang ahli ibadah namun masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ahli shalat namun masih suka melakukan kemaksiatan. Karena itu, penulis menawarkan empat formula agar hikmah yang terkandung di dalamnya terjaga. Pertama , menjaga arkan (rukun), wajibat (wajib), dan sunnah shalat. Kedua , ikhlas, khusyu‘ dan menghadirkan hati. Ketiga , memahami dan mentadabburi ayat, doa dan makna shalat. Keempat , mengagungkan Allah dan merasakan haibatullah . Rasulullah saw. bersabda: “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwa Allah melihat kamu…” (HR. Muslim).

Sebagai bunga rampai, buku ini memang menghimpun beragam tema. Bahwa buku seperti ini kadang tidak fokus memang ada benarnya, namun dari keragaman bahasan yang terangkum di dalamnya justru makin memperkaya kita untuk memahami banyak hal seputar dakwah. Berbagai renungan dan pikiran yang ditulis oleh para pegiat dakwah yang telah teruji di lapangan, buku ini tidak hanya menggugah kesadaran Islam kita, tapi juga menerbitkan optimisme yang besar bagi para aktivis Islam. (Makmun Nawawi).

Tarbiyah Ruhiyah—Petunjuk Praktis Mencapai Derajat Taqwa, DR. Abdullah Nashih Ulwan (Penulis), Ajid Muslim (Penj), Aunur Rafiq Shalih (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Shafar 1424 H/Mei 2003 M, VIII+138 halaman.

Rohani Manusia pun Perlu Rangsuman

Sebagaimana halnya tubuh, rohani manusia pun perlu rangsuman untuk menyegarkannya. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka rohani itu pun loyo dan tidak bergairah, sehingga tidak sensitif dalam menerima berbagai macam pesan kebenaran yang datang dari Ilahi. Padahal rohani ini begitu besar pengaruhnya terhadap perbaikan dan kebangkitan umat. Lantas bagaimana caranya agar rohani ini tumbuh subur? Barangkali pertanyaan besar inilah yang coba hendak dijawab oleh buku kecil ini.

Dengan pandangannya yang integral tentang alam kehidupan dan manusia, al-Quran telah menggambarkan kepada kita perihal metode praktis dalam mempersiapkan rohani manusia, membentuk keimanan, dan mentarbiyah jiwanya. Dan dari beragam ayat yang bertaburan di dalamnya, penulis berkesimpulan bahwa taqwa kepada Allah Azza wa Jalla adalah modal kekayaan inspirasi, sumber cahaya dan karunia yang melimpah.

Dengan taqwa kepada Allah, seorang Mukmin bisa membedakan mana kosong dan mana yang isi; mana yang haq dan mana yang batil. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. al-Anfal [8]: 29).

Banyak jalan yang dapat menyampaikan seseorang untuk meraih taqwa. Dan Abdullah Nashih Ulwan menawarkan lima formula untuk itu, yakni mu‘ahadah (mengingat perjanjian), muroqobah (merasakan kesertaan Allah), muhasabah (introspeksi diri), mu‘aqabah (pemberian sanksi), dan mujahadah (optimalisasi).

Formula mu‘ahadah adalah merujuk kepada ayat: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah…” (QS. an-Nahl [16]: 91). Bukankah di setiap shalat kita selalu berjanji setia dengan mengatakan: “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon bantuan”?

Sementara muroqobah, sebagaimana yang diisyaratkan al-Quran dan al-hadis, adalah merasakan keagungan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan keadaan, serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi atau ramai; dalam kesendirian atau keriuhan banyak orang. Dalam sebuah hadits dituturkan bahwa ketika Nabi ditanya tentang ihsan, beliau menjawab: “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika memang kamu tidak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu.”

Cara meraih sifat taqwa dengan muhasabah adalah didasarkan dari ayat berikut: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Hasyr [59]: 18).

Umar al-Faruq juga berujar: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun.”

Adapun mu‘aqabah (pemberian sanksi), sebagaimana pesan yang terkandung dalam surah al-Baqarah ayat 178 yang menyebutkan tentang qishash, maksudnya adalah, bila seorang Mukmin menemukan kesalahan maka tak pantas baginya untuk membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah terlanggarnya kesalahan-kesalahan yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya.

Sedang maksud mujahadah adalah, apabila seorang Mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksakan dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Dalam hal ini harus tegas, serius, dan penuh semangat, sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya.

Di sisi lain, Abdullah Nashih Ulwan juga mengupas tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan jiwa secara singkat dan sangat aplikatif. Dari konsep yang ditawarkan penulis sejumlah buku berharga ini, secara fisik sangat ringan, bahkan nyaris tidak memerlukan tenaga sedikit pun. Namun tidak semua orang mau mempertajam kepekaan rohaninya dengan cara yang ditawarkannya, yaitu selalu melakukan muroqobah kepada Allah, mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya, membayangkan hari akhirat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Sementara faktor-faktor yang dianggap penulis mampu menumbuhsuburkan rohani, setidaknya ada enam hal. Pertama, memperbanyak tilawah al-Qur'an. Kedua, hidup bersama Rasulullah melalui sirahnya yang harum semerbak. Ketiga, selalu menyertai orang-orang pilihan, yaitu mereka yang berhati bersih. Keempat, dzikir kepada Allah di setiap waktu dan keadaan. Kelima, menangis karena takut kepada Allah di saat berkhalwat (bersunyi diri). Dan keenam, bersungguh-sungguh membekali diri dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah). (Makmun Nawawi).

30 Tips Hidup Bahagia , A'idh bin Abdullah al-Qarni (Penulis), Muhammad Misbah, (Penj.), Aunur Rafiq Salih Tamhid Lc. (Peny.), Robbani Press (Telp. 87780250), Cet. Pertama, Shafar 1425 H/Maret 2004 M, VIII + 98 hlm.

Mereguk Kebahagiaan

Buku yang bagus adalah buku yang lahir bukan hanya karena hobi dari penulisnya atau sekadar buah dari keasyikannya berpetualang dalam jagat idealisme dan intelektualisme, tapi juga lahir dari pengalaman riil langsung penulisnya. Dan inilah salah satu contoh dari buku sejenis itu. Kendati kecil, buku ini sangat bernilai, karena ia lahir ketika penulisnya beraudiensi dengan Rabb-nya di tempat wahyu diturunkan, yaitu Baitullah al-Haram. Kala itu A'idh bin Abdullah al-Qarni, penulisnya, mencecap kebahagiaan yang total, dan ia ingin menularkannya pada yang lain. Maka lahirlah buku ini, yang juga berbicara tentang tema kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah dambaan semua orang. Manusia yang normal tentu enggan hidup dalam kemalangan, kesusahan, kesengsaran dan kenistaan. Maka segenap manusia pun berusaha untuk mengentaskan diri darinya, seraya berlomba menuju kebahagiaan. Kemudian banyak agama besar yang menawarkan konsep hidup bahagia.

Namun faktanya, banyak bangsa—yang lahir dari rahim agama-agama tersebut—di dunia ini hanya mendapatkan kebahagiaan semu, sehingga mereka pun mencari formula dan alternatif lain demi meraih kebahagiaan sejati. Dan petualangan mereka seringkali berakhir setelah mereka mengenal Islam, lalu mereka pun hidup teduh, nyaman, dan bahagia dalam naungan Islam.

Bila Islam terbukti memberikan kebahagiaan total bagi manusia, maka buku ini merupakan saripati dari Islam yang rahmatan lil-‘alamin itu. Buku ini singkat, tapi langsung menohok ke inti tujuan universal hidup umat manusia, yaitu hidup bahagia.

Sebagaimana tercermin dari judulnya, ada tiga puluh tips yang ditawarkan A'idh Abdullah al-Qarni agar seseorang berhasil mereguk kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Pertama, beliau menyarankan agar seseorang mau berpikir dan bersyukur. Artinya, mengingat nikmat-nikmat Allah yang tercurah kepadanya, baik dari atas maupun dari bawah kedua kaki.

Penulis juga menyerukan: berpikirlah tentang pendengaranmu yang sehat dan terhindar dari penyakit tuli! Renungilah penglihatanmu yang bebas dari penyakit buta! Lihatlah kulitmu yang tidak terkena penyakit lepra! Dan amatilah pikiranmu; Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memberimu nikmat kesehatan akal dan Anda tidak menderita gila atau idiot!

Apakah Anda sudi menjual penglihatan Anda sendiri dengan segunung Uhud emas? Apakah Anda sudi menjual pendengaran Anda dengan segunung Tsahlan perak? Apakah Anda sudi membeli istana az-Zahra' dengan lisan Anda sehingga Anda menjadi bisu? Apakah Anda sudi menukar dua tangan Anda dengan mutiara dan permata?

Sesungguhnya Anda tengah mengecap berbagai nikmat yang luas dan karunia yang besar, tetapi Anda tidak sadar. Anda hidup dengan gelisah, resah, sedih dan nestapa, padahal Anda punya roti yang hangat, air dingin, tidur yang tenang, kesehatan yang prima. Anda memikirkan yang tidak ada dan tidak mensyukuri yang ada. Anda gelisah karena kerugian materi, padahal Anda punya kunci kebahagiaan, dan setumpuk kebaikan, anugerah, nikmat, dan hal-hal lain. Pikirkanlah dan syukurilah!

Selain berpikir dan bersyukur, seseorang yang ingin hidup bahagia juga disarankan oleh A'idh Abdullah al-Qarni agar sadar bahwa yang lalu biarlah berlalu dan jangan risau dengan masa yang akan datang, tapi manfaatkanlah waktu yang ada sekarang atau hari yang tengah kita jejaki, yaitu hari ini.

Saat pagi tiba, janganlah tunggu sore hari. Hanya hari ini Anda hidup. Bukan kemarin yang telah membawa baik-buruknya hari ini, dan tidak ada esok hari itu, yang memang belum datang. Yang ada hanya hari ini. Hari yang mataharinya menaungimu dan yang siangnya menjumpaimu adalah hari ini saja.

Saat itu Anda tidak menyia-nyiakan hidup di antara kenangan masa lalu, di antara kegelisahan dan kesedihannya. Juga tidak hidup di antara kecemasan terhadap masa depan, hantunya yang mengerikan, dan perjalanannya yang menakutkan.

Kepada hari ini sajalah arahkan konsentrasimu, perhatianmu, kreativitasmu, dan kerja kerasmu. Hari ini Anda harus mengerjakan shalat yang khusyu‘, membaca al-Qur'an dengan tadabbur , dan belajar dengan perenungan, dzikir dengan penuh kesadaran, seimbang dalam berbagai perkara, berakhlak baik, ridha terhadap bagian Anda, memperhatikan penampilan dan tubuh, dan bermanfaat bagi orang lain.

Tips hidup bahagia lainnya yang direkomendasikan penulis adalah agar jangan menunggu ucapan terima kasih dari seseorang, berbuat baik kepada orang lain, mengisi waktu senggang dengan kerja, jangan jadi bunglon, percaya akan qadha' dan qadar, berdoa, berdzikir, menghindari dengki.

Di samping itu, menerima hidup sebagaimana adanya, shalat, sabar, menghibur orang yang tengah ditimpa musibah, jangan hirau dengan masalah-masalah sepele, dan masih banyak tips lainnya. Namun penulis juga mengingatkan bahwa tips-tips yang ditawarkannya itu tidak akan bermanfaat bagi Anda sebelum Anda berusaha menerapkannya di dalam diri Anda, rumah Anda, pekerjaan Anda, dan kehidupan Anda. (Makmun Nawawi).